Tampilkan postingan dengan label Hubungan Kait Rezeki Dan Kekayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hubungan Kait Rezeki Dan Kekayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2016

Memahami Hakikat Rezeki

Sebenarnya postingan kali ini sesuai yang saya janjikan seharusnya masih membahas seputar ayat 1000 dinar. Namun rasa-rasanya sebelum membahas lebih jauh mengenai antara keterkaitan antara taqwa dan kerezekian ada baiknya kita membahas lebih dulu mengenai hakikat rezeki itu sendiri. Karena siapa tahu ada yang keliru dalam memahami soal rezeki dalam Islam sehingga mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak ada dalam Islam. Hal itu bisa menjadi takhayul dan khurafat dalam benak kita sebagai hamba Allah. Takhayul dan khurafat ini haruslah dibersihkan terlebih dahulu. 

Takhayul Rezeki Coba terangkan kepada saya.. Apa hubungannya antara cermin pecah dengan nasib seseorang? Mungkin banyak dari anda akan berkata : tidak ada hubungannya.. Tapi coba anda mampir ke Inggris. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh The Betway Group, Pada tahun 2012 ada lebih dari sembilan juta orang di Inggris yang percaya bahwa jika anda memecahkan cermin kaca, maka anda akan sial selama tujuh tahun. 

Dan ada lebih dari 10 juta orang yang tidak ingin berjalan di bawah tangga karena takut bernasib sial. Jika anda berkunjung ke Korea Selatan maka anda akan kesulitan menemukan panel tombol lantai nomor 4 dan 13 di dalam lift hotel-hotel paling internasional sekalipun. Di Korea anda pun akan jarang melihat orang yang memotong kuku pada malam hari. 

Konon katanya jika kita memotong kuku di malam hari, tikus akan memakan potongan kuku kita, dan mereka akan dapat berubah menjadi manusia, mengambil formulir, bahkan mencuri jiwa kita. Jika anda mempercayai hal-hal tersebut di Indonesia, mungkin anda akan ditertawakan karena percaya kepada takhayul yang tak masuk akal. 

Walaupun Indonesia sendiri termasuk negeri dengan segudang takhayul. Berbicara tentang takhayul, sebenarnya ada jugaa takhayul dalam perihal rezeki. Takhayul ini berkembang dalam benak kaum muslim dan mengkaburkan akan kebenaran tentang masalah rezeki dalam Islam. 
Sebenarnya bagaimana Islam bicara tentang rezeki? 
Benarkah rezeki sudah ditentukan? 
Benarkah rezeki itu Allah yang mengatur? 
Apa saja rezeki yang diatur oleh Allah? 

Melalui postingan kali ini, kita akan sedikit membahas mengenai hakikat rezeki dalam Islam. 

Bagaimana sesungguhnya penjelasan mengenai hakikat rezeki dalam Al-Qur'an. 

Rezeki Ada Di Tangan Allah 

Umat Islam sangat familiar dengan istilah "Rezeki ada di tangan Allah." Namun zaman sekarang sangat nampak bahwa pemikiran “Rezeki di tangan Allah” telah mengalami pergeseran sehingga kehilangan maknanya. Pemikiran tersebut menjadi kosong dan bahkan tidak menjadi keyakinan bagi kebanyakan umat Islam saat ini. Dengan hilangnya makna pemikiran tersebut, kemudian berkembang khurafat dan takhayul dalam benak sebagian umat Islam. 

Pemikiran khurafat dan takhayul itu, antara lain : 

Rizki tergantung pada usaha manusia, sehingga usaha manusialah yang menentukan rizki. 

Rizki itu tergantung pada akal dan kedudukan, sehingga siapa yang lebih pandai, maka sudah pasti rizkinya akan lebih banyak, demikian juga seorang atasan lebih banyak rizkinya dibanding bawahan. 

Rizki adalah materi yang dapat dihitung secara matematika, sehingga ketika jumlahnya berkurang, di satu sisi jumlah pembaginya bertambah, maka rizkinya akan berkurang. 
Itulah pemikiran khurafat dan takhayul yang berkembang dalam benak kaum muslimin saat ini. 
Akibatnya, umat Islam saat ini menjadi umat yang materialistik dan cenderung menjadi orang yang bakhil, takut menentang kezaliman dan tidak berani amar ma'ruf nahi munkar karena khawatir akan kehilangan kedudukan dan hartanya. 
Jika mencari ilmu, belajar atau yang lain, juga tidak bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan menjadi muslim yang taat serta bermanfaat, namun hanya semata-mata untuk meraih kenikmatan materi. 

Oleh Karena itu, ketika tujuannya telah tercapai, proses belajarnya akan berhenti. Sebab semuanya telah tercapai. 
Inilah pemikiran-pemikiran khurafat dan takhayul yang berkembang di benak sebagian besar kaum muslimin. 
Semuanya ini adalah debu-debu kotor yang harus dibersihkan dari benak mereka, sehingga makna pemikiran “rizki di tangan Allah SWT.” tersebut benar-benar jernih dan cemerlang. 

 Hakikat Rezeki Dalam Islam 

Mengenai hakikat rizki harus difahami berdasarkan realitas makna lafaz dan syara’nya, baik yang diambil berdasarkan pengertian bahasa maupun syara’. Lafadz ar-Rizq, dalam bahasa Arab berasal dari Razaqa-Yarzuqu-Rizq yang berarti: A’tha-Yu’thiI’tha’ (pemberian). Jadi, secara etimologis ar-Rizq berarti pemberian. 

Adapun menurut terminologis/istilah,"rizki adalah Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak." Definisi “Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh)” meliputi semua bentuk rizki; 
Halal & Haram 
Positif & Negatif 
Sehat & Sakit 
Cerdas & Tidak cerdas 
Cantik & Jelek, dan sebagainya Semuanya merupakan rizki. 

Definisi ini menjelaskan, bahwa rizki berbeda dengan hak milik. Sebab, hak milik selalu memperhatikan cara, yaitu syar’i atau ghayr syar’i; Jika caranya syar’i, maka hak miliknya halal Jika ghayr syar’i, maka hak miliknya tidak halal.Tetapi, dua-duanya tetap disebut rizki. 

Definisi ini juga meliputi rizki yang diperoleh secara mutlak, baik tanpa usaha, seperti pemberian, waris, diyat, ataupun karena usaha, seperti bekerja, menjadi broker, atau yang lain, termasuk kerja yang diharamkan, seperti mencuri, merampok dan sebagainya. Semuanya ini bisa mendatangkan rizki meskipun kemudian ada yang halal dan haram. 
Mengenai definisi "baik yang bisa dimanfaatkan maupun tidak” meliputi semua bentuk rizki, baik yang positif maupun yang negatif, sekaligus menafikan rizki yang dianggap hanya sesuatu yang bisa dimanfaatkan saja. 

Inilah makna pemikiran mengenai rizki, yaitu apa saja yang diberikan Allah SWT yang diperoleh oleh manusia. 

Sekarang kita bicara dalil. 

Dalam al-Qur'an, Allah SWT juga dinyatakan sebagai sebab bagi rizki manusia. Allah SWT. berfirman : “Dan di langit ada (sebab-sebab) rizki kamu, juga apa saja yang telah dijanjikan kepada kalian. 
Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.s. Adh-Dhâriyât; 22-23). 
Belum pernah ada satu ayat pun yang menggunakan ta’kîd (penegasan) yang sedemikian kuat melebihi ayat rizki ini. 

1.penegasan kebenaran, bahwa rizki di tangan Allah (di langit) dan sebabnya hanya Allah, dengan menggunakan qasam (sumpah), yaitu Wa Rabbi as-Samâ’i Wa al-Ardh (demi Tuhan langit dan bumi). 

2.penegasan dengan menggunakan huruf ta’kîd, yaitu Innahu, yang berarti “sesungguhnya rizki”. 

3.penegasan yang menggunakan huruf lam at-ta’kîd, yaitu Lahaqqun, yang artinya “benar-benar akan terjadi”. 

4.penegasan dengan menggunakan huruf ta’kîd, yaitu Innakum, yang artinya “sesungguhnya kamu”. Kelima, penegasan dengan menggunakan lafadz: Tanthiqûn (kamu berbicara) dan bukan yang lain, yaitu antara lafadz: Tanthiqûn dengan Rizq disatukan dalam satu konteks kalimat, yang menunjukkan bahwa antara rizki dengan bicara tersebut mempunyai tempat yang sama, yang sekaligus menunjukkan hubungan antara rizki dengan mulut. 

Ini artinya, bahwa “Kalian tidak bisa berbicara dengan menggunakan mulut orang lain, selain mulut kalian sendiri, maka kalian juga tidak bisa memakan rizki orang lain, selain rizki kalian sendiri.” Karena itu, setiap makhluk yang diberikan kehidupan oleh Allah pasti telah Dia tetapkan rizkinya, 
sebagaimana firmanAllah SWT.: “Dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan oleh Allah. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (Q.s. Hûd: 6). Ayat ini secara tegas memaparkan, bahwa tidak satu pun makhluk yang diberi kehidupan oleh Allah, kemudian dibiarkan hidup tanpa jaminan rizki dari-Nya. 

Sebab, siapakah yang menjamin rezki manusia? 
Tentu bukan manusia, tetapi sebaliknya yaitu Allah. 
Maka, ketika ada orang tua yang takut keturunannya lahir tanpa jaminan rizki, kemudian mereka membunuh keturunannya karena takut akan kelaparan, dengan tegas ketakutan tersebut dibantah oleh Allah: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. ” (Q.s. Al-Isrâ’: 31). “...Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan juga kepada mereka...” (Q.s. Al-An’âm: 151). 
Melalui ayat ini, Allah SWT menjelaskan, bahwa rizki itu tidak bisa dihitung dengan angka matematika. 
Maka, ketika seseorang mempunyai gaji Rp.2,000,000 (dua juta rupiah) dimakan seorang, akan berubah komposisinya ketika masih single, dengan ketika telah menikah, dimana angka di atas sebelumnya dibagi satu, menjadi dua, suami-isteri, dan jika mempunyai satu anak, akan berkurang lagi menjadi Rp. 666,000 per orang. Akhirnya muncul ketakutan dan rasa takut, karena jumlahnya berkurang. Akibatnya muncul rasa takut menikah, mempunyai anak dan ketakutan-ketakutan yang lain. Inilah yang dibantah oleh Allah SWT. seakan ingin menyatakan: “Bukan kamu yang menjamin rizki mereka, melainkan Akulah Yang menjamin rizki mereka, juga rizki kamu.”Inilah yang dijanjikan oleh Allah SWT. 

Jaminan rizki tersebut telah diberikan oleh Allah SWT. melalui orang tuanya atau melalui orang lain.
Ayat-ayat dan makna pemikiran rizki di atas memberikan gambaran, bahwa “rizki di tangan Allah” adalah pemikiran yang menjadi keyakinan dan wajib dimiliki oleh setiap orang Islam. Karena pemikiran tersebut memang nyata adanya dan tidak kontradiksi dengan realitasnya. Orang yang mengingkarinya bisa jatuh kepada kekufuran. Keyakinan mengenai “rizki di tangan Allah” tersebut meliputi keyakinan mengenai segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT. baik pemberian dalam bentuk materi, maupun non materi; baik berupa gaji ataupun bukan. 

Karena itu, bisa saja gaji seseorang kecil, tetapi rizkinya besar. Dengan demikian, rizki tidak tergantung pada jabatan dan kedudukan, dan tidak tergantung pada akal, ilmu ataupun yang lain. Karena Allah telah memberikan rizki tersebut secara mutlak kepada siapapun. 

Tepat sekali ungkapan penyair yang menyatakan: Kalaulah rizki tergantung pada akal, Tentu binatang-binatang telah binasa karena kebodohannya. 
 Jadi, rizki tersebut semuanya tergantung pada irâdah dan masyî’ah Allah SWT. saja, tetapi bukan berarti menafikan usaha manusia. 

Sebab, makna pemikiran “rizki di tangan Allah” adalah masalah keyakinan yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Sedangkan masalah usaha agar “rizki di tangan Allah” tersebut sampai kepada manusia, adalah masalah hukum syara’. 

Dan ini merupakan dua wilayah yang berbeda. Yaitu, wilayah hati dan fisik. 
Karena itulah, maka usaha untuk memperoleh rizki hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim.
Allah SWT. berfirman: “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah anugerah Allah.” (Q.s Al Jumu’ah: 10) Meskipun usaha merupakan kewajiban bagi tiap muslim untuk mendapatkan rizki agar sampai kepadanya, tetapi usaha ini bukanlah sebab yang memastikan datangnya rizki. 
Usaha hanyalah faktor-faktor kondisional (al-hâlah) yang harus diusahakan agar “rizki di tangan Allah” tersebut datang. 

Artinya, jika seseorang bekerja, belum tentu mendapatkan rizki. Jika demikian, siapa yang menjadi sebab rizki? Tentu hanya Allah SWT. Firman Allah SWT.: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizki kalian, dan terdapat apa yang telah dijanjikan kepada kalian.” (Q.s. Adh-Dhâriyât: 22). Sebahagian ulama’ ada yang mengaitkan sebab rizki tersebut dengan tawakkal kepada Allah SWT. 
Ini artinya, bahwa sebab rizki ini adalah Allah SWT. 
Karena itu yang menentukan banyak dan sedikitnya rizki adalah keyakinan seseorang kepada Allah sebagai ar-Razzâq (Maha Pemberi Rizki), 
sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits Nabi saw.: “Jika kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberi rizki kepada burung yang berangkat (pagi) dengan perut kosong, dan pulang dengan (perut) kenyang.” (H.r. At-Tirmidzi dan Ahmad). 

Jadi, meskipun rizki tersebut ditentukan oleh Allah, dan usaha manusia tidak mempengaruhi besar dan kecilnya rizki, tetapi usaha tetap merupakan faktor yang menentukan halal dan haramnya rizki yang diberikan oleh Allah SWT. Karena itu, mengapa ada perbedaan antara rizki dengan pemilikan rizki. 
Setiap muslim wajib berusaha mencari rizki dengan usaha yang bisa mengantarkannya pada hasil yang halal. 
Meskipun hakikat rizki yang halal dan haram tersebut sama-sama dari Allah SWT., tetapi status halal dan haram tersebut adalah manusialah yang menentukan. 
Yaitu dengan mendapatkan rizki berdasarkan pemilikan yang sahih berdasarkan ketentuan Islam. 
 Karena itu, manusia akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah karena cara memperolehi rizkinya; apakah bertentangan dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah atau tidak? Demikian halnya pertanggungjawaban atas pemanfaatan rizki yang diberikan kepada manusia; apakah untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah atau tidak? Sebab, semuanya ini merupakan wilayah aktivitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. 

Hanya manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban karena sedikit atau banyaknya, atau karena baik dan buruknya, atau karena positif dan negatifnya rizki yang diberikan kepadanya. 
Sebab, masalah ini merupakan wilayah Allah, dan bukannya wilayah manusia. 

Demikian duli penjelasan mengenai memahami hakikat rezeki dan semoga mendapat manfaat dan bermanfaat bagi kita umat Islam. 
Inilah yanga perlu kita pahami terlebih dahulu sebelum melaksanakan amalan pembuka pintu rezeki menurut Islam. 

 Wallahu a'lam bishowab

Kamis, 28 Juli 2016

Hubung Kait Rezeki Dan Kekayaan

Ass.wr.wbr. 

alhamdulillah Salawat dan salam smoga tercurahkan selalu kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW.

Kali ini saya ingin memberi sedikit pencerahan tentang 

: Hubung Kait Rezeki Dan Kekayaan.

Manusia seringkali menafsirkan bahwa rezeki adalah harta kekayaan atau keuntungan dari hasil suatu pekerjaan. 

Pada hakikatnya, pengertian rezeki lebih luas. Rezeki ialah segala keperluan hidup seperti keamanan, kebahagiaan, ketenangan, perlindungan, keamanan, ilmu, sifat-sifat terpuji saperti ikhlas, ridho, syukur, tawadhu, khusyuk dalam sembahyang dan lain sebagainya. 


Secara umumnya rezeki adalah segala pemberian atau nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambanya. Mengenai rezeki yang berupa harta kekayaan, ada orang mendapat rezeki yang berkah dan ada juga yang membawa kepada ke celakaan dalam hidup kita. 


Untuk mendapat keberkahan rezeki tersebut seharusnya diperolehi dengan cara-cara yang halal dan ditambah lagi dengan rasa kesyukuran, 

sementara rezeki yang tidak berkat diperolehi dengan cara yang tidak dibolehkankan syara' dan diiringi dengan tamak yang berlebihan dan sangat mementingkan kebendaan sehingga lupa kewajiban dan tuntutan syara'. 


Rezeki yang berkat akan menambahkan kedamaian, mengokohkan keimanan dan membentuk akhlak serta pribadi yang terpuji, memberikan kepuasan,memberikan kesehatan mental,fisikal serta spritual. 


Ia juga akan memberi pengaruh terhadap ketentraman, keamanan,sejahtera serta keharmonian dalam kehidupan berkeluarga, anak isteri patuh dan mendengar perkataan suami, dan tidak mendatangkan masalah. 

Malahan rezeki yang berkat juga berperanan terhadap masyarakat dan negara saperti yang di alami oleh Negeri Saba'. Rakyatnya rukun damai,tanahnya subur,pohon-pohonnya yang berbuah lebat . 

Perlu dinyatakan bahwa Allah adalah pemberi rezeki kepada semua makhluk. 

Manusia sesungguhnya tidak mampu melakukannya, untuk memberi makan semua ikan di laut saja kita tidak akan sanggup. kejadian ini membuktikan bahawa kemampuan dan keupayaan manusia sangat terbatas. 

Tugas manusia berusaha tetapi yang menentukan usaha tersebut berhasil atau gagal, mendapat rezeki atau tidak, banyak atau sedikit adalah anugerah Allah Subhanahu Wataala. 


Dalam Surah Al Isra ayat 70 Allah berfirman yang artinya: 

" dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami berikan mereka rezeki yang baik". Dalam Surah Hud ayat 6 Allah berfiman: " Dan tidak ada satupun binatang yang melata dibumi ( yang tidak dapat rezeki) melainkan Allah yang memberi rezekinya" Firman Allah Surah Saba' ayat 24 : " Katakanlah olehmu ( wahai Muhammad) siapa yang memberi rezeki dari langit dan bumi? Katakan " Allah". Firman Allah Surah Al Isra' ayat 31: " Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana takut miskin. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu. 


Oleh karena yang memberi dan mengatur rezeki tersebut hanya Allah S.W.T.,             maka sebagai orang yang beriman kita harus memperbaiki hubungan kita dengannya di selain membaiki hubungan sesama manusia dan sesama mahluk- mahluk yang lainnya. 


Dalam halaman-halaman berikut dicatatkan beberapa amalan yang bisa mendatangkan rezeki yang luas dan berkah.

 

AMALAN - AMALAN MURAH REZEKI 


1.Bertaqwa dan beribadah kepada Allah 

1. Bertaubat dan beristighfar         

2.Menunaikan solat fardhu dan mengamalkan solat sunat terutama Solat Hajat dan Solat Duha                                                                         

3. Berpuasa                                                             

4. Bersyukur                                                             

5. Bertawawakkal                                                   

6. Membaca Al Quran, berdoa dan berzikir .


2.Berbuat kebaikan kepada manusia                   

1. Bersedekah 

2. Memberi nafkah kepada keluaga 

3. Membayar zakat 

4. Memanfaatkan harta di jalan Allah 

5. Membantu orang yang sedang dalam kesusahan.

Wallahu a'lam..

Selasa, 26 Juli 2016

Kesuksesan Dan keberuntungan yang Sesungguhnya

Allah SWT telah mengemukakan beberapa kriteria yang dikehendaki untuk menjadi Orang Yang sukses atau beruntung di dalam Surah Al-Mukminun: 1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman 2. (Iaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya 3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna 4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7. Barangsiapa mencari yang selain itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas 8. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, 9. Dan orang-orang yang memelihara solatnya 10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi 11. (Iaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Nabi Muhammad SAW memberikan pesanan: “Barangsiapa yang memilih kehidupan duniawi menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah menjauhkan dirinya dari tujuannya, dan meletakkan kefakiran di hadapan biji matanya. Ia tidak mendapatkan kehidupan dunia, melainkan apa yang telah ditentukan baginya. Barangsiapa dalam kehidupan di duniawi dan akhirat menjadi niat utamanya, niscaya Allah akan menyatakan dirinya dengan tujuannya, dan menjadikan kekayaan dalam hatinya sekaligus mendapat kehidupan duniawi. Dan (perlu diingat), kehidupan duniawi adalah hina.” –H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi- BERUSAHA Setelah menyadari kenyataan rezeki dan kesuksesan yang sebenarnya, tibalah waktunya untuk kita berusaha sedaya upaya untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala laranganNya. Kita juga sepatutnya berusaha untuk menambahkan amalan-amalan yang dijanjikan oleh Allah SWT akan menyebabkan rezeki kita berlipat ganda. Yang paling penting, apa-apa saja yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk mendapat keredhaan Allah SWT. Kita juga sememangnya dijadikan oleh Allah SWT di atas muka bumi ini untuk bekerja dan bersusah payah dengan tujuan semata-mata untuk menampilkan diri kita sebagai insan cemerlang di hadapanNya. Biar apa pun pekerjaan kita, baik pemulung sampah, penyapu lantai, pengawal keselamatan, guru besar, pemetik apel, penjual insuran, dokter pakar bedah, pemungut uang tol dan lain sebagainya, buat segala-galanya haruslah dengan sebaik-baiknya dan berlandaskan ajaran Islam. Amalkan konsep bersederhana, bertanggungjawab dan tekun berusaha sepanjang masa. Janganlah takut untuk mencoba. Janganlah bimbang akan hilang mata pencarian sehingga sanggup mencari rezeki melalui jalan yang haram. Janganlah segan untuk menegur ketidak adilan. Janganlah khawatir dan bingung dengan masa depan. Janganlah mempertuhankan kerja. Janganlah mendewa-dewakan majikan. Janganlah menyembah pemerintahan. Janganlah bergantung dengan makhluk untuk mencapai kesuksesan. Selain daripada itu, senantiasa berusaha menambah ilmu pengetahuan kita supaya dapat meningkatkan pemahaman kita kepada kehendak Allah SWT. Siapa yang mahukan dunia, haruslah dengan ilmu. Siapa mahukan akhirat, haruslah berilmu, Siapa yang mahukan kedua-duanya, haruslah menambah ilmu pengetahuan. Dengan bekalan ilmu itulah, kita gunakan untuk memperbaiki amalan kita dan meningkatkan martabat kita.

REZEKI DAN KESUKSESAN/KEBERUNTUNGAN YANG SESUNGGUHNYA

Diantara manusia banyak yang berkeinginan untuk mendefinisikan rezeki sebagai perkara yang diperlukan untuk kemandirian hidup semata-mata,contohnya seperti uang, makanan, minuman, pakaian dan lain-lain yang bersifat kebendaan. Selain daripada itu, manusia juga mempunyai keinginan untuk mengukur kesuksesan hidup seseorang hanya berdasarkan aspek materialistik seperti harta, pengaruh, jabatan dan kemewahan. Keinginan kita untuk menyempitkan arti atau makna rezeki dan kesuksesan inilah yang telah menyebabkan kebanyakan manusia sudah diprogram untuk melihat rezeki dan kejayaan daripada perspektif atau pengetahuan yang dangkal. Ia di awali dengan sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan kita telah diprogramkan untuk membelokkan maksud rezeki dan kesuksesan yang sesungguhnya. Dari TK, sekolah hinggalah ke universitas, kita telah dipaksa untuk mempercayai bahawa untuk menjadi sukses dalam hidup, kita perlu mendapat keputusan nilai pelajaran yang cemerlang. Kemudian kita juga dipaksa untuk percaya bahawa hanya beberapa jurusan atau bidang tertentu saja yang dapat memberikan penghasilan yang lumayan. Kita juga disuruh memilih universiti yang hebat kerana kita disarankan bahawa hanya universiti yang terkenal akan menjadikan kita orang yang hebat. Institusi Pendidikan Hanya Menghargai Pelajar Yang Cemerlang Dalam pelajaran Institusi Pendidikan Kita Lebih Bersifat Exam-Oriented dan Gagal Bersifat Holistik. Setelah itu kita pun berbondong-bondong masuk ke alam pekerjaan. Sewaktu bekerja juga, kita diprogramkan untuk percaya bahawa untuk mendapat rezeki yang banyak, kita perlu menuruti kemauan majikan. Kita terpaksa menuruti, mengipas dan mengampu majikan untuk kesuksesan dan naik pangkat. Segala kesalahan dan kesilapan yang majikan kita lakukan di iyakan walaupun itu bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Kita juga sanggup berbohong dan menyalah guna kekuasaan semata-mata untuk naik pangkat. Sikap menusuk dari belakang juga diamalkan semata-mata ingin menyelamatkan mata pencarian. Kita sanggup lihat orang lain menderita semata-mata hanya ingin menjaga periuk nasi sendiri. Yang penting, kita bisa dapatkan jabatan tinggi, berpangkat besar, dan mempunyai gaji yang mahal, mobil yang berkelas,rumah yang besar dan berpengaruh hebat. REZEKI DAN KENYATAANNYA kenyataannya, yang menentukan rezeki bukanlah keputusan pelajaran yang cemerlang, jurusan ataupun universitas yang ternama. Yang menentukan rezeki dan suksesan seseorang juga bukanlah pekerjaan, jabatan, gelaran, pangkat maupun gred gaji seseorang. Yang menentukan kejayaan seseorang juga bukanlah rumah yang besar, mobil yang berkelas, simpanan uang yang banyak dan pendukung yang ramai. Kenyataan yang sebenarnya yang perlu di sadari adalah, rezeki dan kesuksesan seseorang perlulah diukur dari aspek yang telah ditetapkan oleh Pemberi Rezeki dan Pencipta Semua Makhluk yaitu Allah SWT. Rezeki mempunyai pengertian yang amat luas bukan sekedar penghasilan, makanan dan pakaian semata-mata. Bagi setiap hamba Allah, nikmat Islam, Iman dan Ehsan ialah rezeki yang paling besar. Bagi seorang pelajar, ilmu yang bermanfaat dan bertambah merupakan suatu rezeki. Bagi seorang lelaki, isteri yang solehah dan mendamaikan jiwa adalah rezeki. Bagi seorang wanita, suami yang dapat membimbingnya ke jalan Allah SWT dan menyayanginya adalah rezeki. Bagi seorang ibu atau ayah, anak yang soleh merupakan rezeki yang sangat bernilai. Bagi orang yang sakit, kesehatan adalah rezeki yang sangat bermakna. Sahabat atau tetangga yang baik dan senantiasa membantu juga merupakan rezeki atau anugerah. Pengalaman hidup pun merupakan suatu rezeki yang berharga. Bagi setiap manusia juga, ketenangan jiwa dan fikiran merupakan rezeki yang tiada bandingannya. Kesuksesan juga tidak boleh disukat dengan ketinggian pangkat, gelaran-gelaran terhormat, besarnya kereta, besarnya luas kediaman atau banyaknya uang dan emas permata. Kesuksesan harus berlandaskan skema penilaian yang sudah ditetapkan oleh Pencipta kita, Rabbul Jalil, Allah SWT. Ingin ditekankan, bukannya mempunyai keputusan mata pelajaran yang cemerlang itu tidak bagus. Bukannya berjabatan besar itu tidak baik. Bukannya bermaksud mobil berkelas atau punya rumah besar itu tidak baik. Tetapi, apa yang penting, janganlah beri’tiqad bahawa hanya kecemerlangan akademik saja yang bisa menyebabkan kita menjadi sukses dalam hidup dan menganggap kawan kita yang kurang cemerlang akan gelap masa depannya. Juga tidak boleh apabila kita berjabatan tinggi, kita merendah-rendahkan orang yang berada di bawah kita.dan Jangan juga menjadi sombong, riya’ dan takabbur jika dianugerahkan kemewahan, kekayaan dan kemasyhuran. Dan juga jangan sampai aqidah kita berbelok dengan mengatakan hanya majikan atau negara saaja yang mampu memberi rezeki, kerana itu bisa membuatkan kita jauh daripada Allah SWT. Yang ingin ditegaskan adalah, kita perlu sadar tentang prinsip utama kehidupan kita yaitu; Hanya Allah SWT sajalah yang mampu memberi segala rezeki, keberkatan dan kebaikan. Allah SWT jugalah yang berupaya menarik semuanya hingga hilang harta yang kita dapat dalam sekelip mata. MENGUNDANG REZEKI LEBIH PENTING DARIPADA MENCARI REZEKI. Setiap hari kita melihat manusia terburu-buru keluar mencari rezeki. Ada yang keluar dari pagi sampai larut malam. Ada yang mengembara beribu-ribu kilometer. Ada yang menuju ke lautan yang jauh. Ada yang meninggalkan keluarga berbulan-bulan. Ada yang bekerja setiap waktu tanpa henti dari muda sampai ke tua. Dan untuk mendapatkan rezeki, ada yang sanggup menipu dan merampas harta orang lain. Ada yang sanggup berbunuh-bunuhan. Ada yang sanggup melakukan pekerjaan yang terkutuk dan hina. Ada juga yang sanggup melanggar larangan Allah seperti riba dan korupsi. Namun anehnya rezeki yang dicari tidak cukup-cukup. Makin dibanting kekuatan, hasilnya tidak cukup juga. Makin dikumpul, makin berkurangan. Ada yang gaji puluhan juta, ujung bulan licin juga. Hutang-hutang pun bertumpuk. Ke mana perginya uang pun tidak diketahui. Semua ini terjadi kerana ramai yang tidak mengerti kenyataan yang sebenarnya tentang rezeki. Kita perlu tahu bahawa rezeki kita sebenarnya ditetapkan oleh Pemberi rezeki iaitu Allah SWT. Yang menentukan rezeki kita bukan pekerjaan atau jabatan kita. Yang menentukan rezeki bukan majikan atau bos kita. Tetapi kita perlu yakin dan beri’tiqad bahawa yang menentukan qada’ dan qadar serta rezeki kita hanya Allah SWT semata-mata. Apabila kita sadar bahawa Allah SWT ialah satu-satunya Pemberi rezeki dan rezeki kita ditulis oleh Allah SWT, tidak ada gunanya kita mencari rezeki bermati-matian jika Allah SWT tetap tidak mengizinkan kita untuk memilikinya. Oleh sebab itu, kita haruslah mendahulukan perbuatan mengundang rezeki sebelum mencari rezeki. Apabila sudah tahu dimanakah terletaknya rezeki, pasti lebih mudah untuk kita mendapatkannya daripada dengan membuang waktu untuk mencarinya. Di manakah terletaknya rezeki? Rezeki terletak hanya di tangan Pemberinya semata-mata yaitu Allah SWT. Dialah yang membuka dan menutup pintu rezeki. Dialah yang menambah dan mengurangkan rezeki. Jadi bagaimanakah caranya untuk mengundang rezeki? Kita haruslah melakukan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya yang dikehendaki oleh Pemberi rezeki. Yakinlah dengan janji-janjiNya. Pujilah Dia. Pujilah Dia. Memohonlah kepadanya. Sayangilah Dia. Sayangilah orang yang disayangiNya. Mohonlah kepadaNya. Dan janganlah berputus asa dengannya. Berbuat baiklah sebagaimana disuruh kepada sesama makhluk. Jalinkan silaturrahim sesama insan sebagaimana yang diperintahkanNya. Sebarkanlah dan berbagilah kepada makhluk yang lain tentang perkhabaranNya dan ancamanNya. Ceritakanlah kepada manusia lain tentang kehebatanNya JANJI-JANJI ALLAH SWT DALAM MEMBERI REZEKI: 1)Bertaqwa : Bertaqwa merupakan syarat utama untuk menjemput rezeki. Taqwa artinya takut kepada Allah dengan menjauhkan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT dan menahan diri daripada dosa. Melakukan segala suruhan Allah SWT juga merupakan suatu bentuk ketaqwaan. 2) sholat: Nabi Muhammad SAW bersabda : ” Solat ialah salah satu perkara yang disukai oleh Allah S.W.T. sholat juga perbuatan yang dicintai oleh para malaikat,dan sholat adalah sunnah Ambiyaa` Alaihi Mussolatu Wassalam, Nur (cahaya) kepada ma`rifah dicapai dan doanya diterima, dan keberkahan rezeki didapati.” Sahabat Nabi juga penah berkata: “Apabila isi rumah dan bekalan makanan di rumah Nabi S.A.W berkurangan dan tidak ada, Baginda menyuruh isi rumahya menunaikan sholat dan membaca ayat: ” Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah Engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadaMu, (bahkan) Kamilah Yang memberi rezeki kepadamu. dan (ingatlah) kesudahan Yang baik adalah bagi orang-orang Yang bertaqwa.” surah: (Taha :132) 3) Bersegera Untuk Allah SWT: Nabi Muhammad bersabda: “Tuhanmu telah berfirman: ‘Wahai anak Adam,sempatkanlah untuk beribadah kepadaKu, maka Aku akan penuhi hatimu dengan rasa kaya dan Aku akan penuhi kedua-dua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah kamu menjauhi Aku, maka Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan kedua-dua tanganmu dengan kesibukan’.”- H.R Imam Al-Hakim daripada Mu’aqqal bin Yassar r.a.- 4) Istighfar: Saidina Abbas R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi .S.A.W bersabda, “Seseorang yang kerap mengucapkan istighfar,yang mana ianya meminta keampunan dari Allah S.W.T atas dosa yang dia telah buat,maka Allah S.W.T akan membuka jalan-jalan penyelesaian dari kemiskinan dan kesusahan. Segala penderitaan dan kesusahan akan dialihkan dan pada tempatnya kemakmuran dan kesejahteraan akan didapati yang mana seseseorang itu akan menerima rezeki dari sumber yang tidak diketahui dan tidak dijangka sumbernya.” 5) Tawakkal: Tawakkal pada Allah S.W.T boleh diartikan dan ditakrifkan sebagai berharap sepenuhnya kepada Allah S.WT di dalam penerangan yang lebih terperinci ianya bermaksud seratus persen berserah dan berharap kepada Allah SWT yang akan memberi rezeki. Tawakkal juga menggesa kita mempercayai bahawa jika semua mahluk ciptaanAllah S.W.T berkumpul dan datang untuk mengubah sesuatu, maka pasti mereka tidak mampu mengubahnya kecuali dengan izin Allah SWT Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, pasti kamu diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (H.R Umar bin al-Khattab dari Imam Ahmad, At-Tirmizi.) 6) Infaq Di Jalan Allah SWT: Ramai yang heran bagaimanakah harta akan bertambah jika kita memberikan harta kita kepada orang? Disebabkan perasaan khawatir itu jugalah, ramai yang tidak sanggup bersedekah atau beramal kerana khawatir hartanya berkurangan. Anehnya, ramai juga orang yang tidak beriman yang rajin bersedekah kerana mereka percaya ia boleh menambahkan lagi kekayaan mereka. Robert Kiyosaki pernah menulis tentang antara rahsia kekayaannya ialah, sewaktu ekonominya tidak stabil, dia akan mencari apakah barangan yang paling disayanginya, lalu dia akan menyumbangkan barang yang paling disayanginya dan dia akan dikaruniakan rezeki yang berganda selepas itu. Warren Buffet yang pernah tersenarai sebagai orang paling kaya di dunia pun yakin dengan amalan menyumbang dan bersedekah. Dia pernah menyumbang setengah hartanya berjumlah US 30 milyar semata-mata untuk kebajikan manusia. Heran bin ajaib. Sepatutnya orang Mukmin lebih terkehadapan di dalam bab bersedekah dan menderma. Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Berilah (belanjalah) dan janganlah kamu selalu menutupi kepunyaanmu, kerana dengan itu nanti Allah akan menutupi rezekimu.” -Hadis Riwayat Bukhari & Muslim- 7) Menyambung Silaturrahim: Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” 8) Berhijrah: Dalam al-Quran terdapat satu ayat yang menyatakan tentang orang yang berhijrah akan memperolehi banyak rezeki. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (An-Nisa’: 100) 9) Tinggalkan Perbuatan Dosa : Tiada gunanya beristighfar jika masih melakukan dosa. Dosa bukan saja membuat hati resah malah menutup pintu rezeki. Sabda Nabi S.A.W.: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” – [Riwayat at-Tirmizi] 10) Berbakti Dan Mendoakan Ibu dan bapak: Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah S.A.W. berpesan agar siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah berbakti kepada ibu bapaknya dan menyambung tali kekeluargaan. Baginda S.A.W. juga bersabda: “Siapa berbakti kepada ibu bapaknya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah S.W.T.akan memanjangkan umurnya.” – [Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim] 11) Berbuat Baik Dan Menolong Orang Yang Lemah : Berbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuklah menggembirakan dan membahagiakan orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin, juga isteri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi S.A.W.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di kalangan kamu.” – [Riwayat Bukhari] 12) Perbanyak Berbuat Kebaikan : Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya kebaikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain. Manakala kejahatan bisa menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya.” 13) Mengerjakan Sholat Malam(tahajjud) : Ada keterangan bahawa amalan solat tahajjud memudahkan memperoleh rezeki, menjadi sebab seseorang itu dipercayai dan dihormati orang dan doanya dimakbulkan Allah S.W.T. 14) Mengerjakan sholat Duha : Amalan solat Duha yang dibuat waktu orang sedang sibuk dengan urusan dunia (aktiviti harian), juga mempunyai rahsia tersendiri. Firman Allah S.W.T.dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” – [Riwayat al-Hakim dan Thabrani] 15) Bersyukur Kepada Allah SWT. : Syukur artinya mengakui segala pemberian dan nikmat dari Allah S.W.T.. Lawannya katanya adalah kufur nikmat. Allah S.W.T.berfirman: “Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” – [Ibrahim: 7] 16) Mengamalkan Dzikir Dan Bacaan Ayat Al-Qur’an Tertentu : Dzikir dari ayat-ayat al-Quran atau asma’ul husna selain menenangkan, menjernihkan dan melembutkan hati, ia mengandungi fadilah khusus untuk keluasan ilmu, terbukanya pintu hidayah, dimudahkan memahami agama, diberi kemanisan iman dan dilapangkan rezeki. Misalnya, dua ayat terakhir surah at-Taubah (ayat 128-129) jika dibaca secara konsisten tujuh kali setiap hari sesudah sholat, Insya-Allah dikatakan boleh menjadi sebab Allah S.W.T. melapangkan kehidupan dan memurahkan rezeki. Selain itu, salah satu nama Allah S.W.T., yakni al-Fattah (Maha Membukakan) dikatakan dapat menjadi sebab dibukakan pintu rezeki jika diwiridkan selalu. Contohnya dibaca “Ya Allah ya Fattah” berulang-ulang, diiringi doa: “Ya Allah S.W.T., bukalah hati kami untuk mengenali-Mu, bukalah pintu rahmat dan keampunan-Mu, ya Fattah ya ‘Alim.” Ada juga hadis menyebut, barang siapa yang mengamalkan bacaan surah al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kepapaan. Wallahu a’lam. 17) Berdoa : Berdoa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah S.W.T., penuh bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya. Dalam al-Quran, Allah S.W.T. menyuruh kita meminta kepada-Nya, niscaya Dia akan perkenankan. 18) Berikhtiar sehabis-habisnya : Siapa yang berusaha, dia yang akan berjaya. Ini sudah menjadi sunnatullah. Dalam satu hadis sahih dikatakan bahawa Allah S.W.T. memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tetapi agama Allah S.W.T. hanya diberi kepada orang yang dicintai-Nya saja. – [Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim] Bagi orang beriman, tentulah dia perlu mencari sebab-sebab yang bisa membawa kepada murah rezeki dalam skop yang luas. Misalnya, jika mau tenang membaca Quran, jika mau mendapat anak yang baik di didiknya sejak anak itu masih di dalam rahim, jika mau sehat dijaganya pemakanan dan makan makanan yang baik serta halal, jika mau dapat tetangga yang baik dia sendiri berusaha menjadi baik, jika mau rezeki berkah jauhilah yang haram, dan sebagainya. 19) Bertawakal : Dengan tawakal, seseorang itu akan di beri rezeki rasa kaya oleh Allah S.W.T. seperti firman-Nya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah S.W.T., niscaya Allah S.W.T. mencukupkan (keperluannya).” – [At-Talaq: 3] Banyak lagi amalan-amalan lain yang dapat menambahkan lagi rezeki dan keberkatan hidup kita yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Marilah menambahkan keyakinan kita terhadap kebenaran janji-janji Allah SWT. KESUKSESAN/KEBERUNTUNGAN YANG SEBENARNYA Allah SWT telah mengemukakan beberapa kriteria yang dikehendaki untuk menjadi Orang Yang sukses di dalam Surah Al-Mukminun: 1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman 2. (Iaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam solatnya 3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna 4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas 8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, 9. Dan orang-orang yang memelihara solatnya 10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi 11. (Iaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Nabi Muhammad SAW memberikan pesanan: “Barangsiapa yang hidup di duniawi menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah menjauhkan dirinya dari tujuannya, dan meletakkan kefakiran di hadapan biji matanya. Ia tidak mendapatkan kehidupan dunia, melainkan apa yang telah ditentukan baginya. Barangsiapa yang tujuan hidupnya akhirat dan menjadikan niat utamanya, nescaya Allah akan menyatakan dirinya dengan tujuannya, dan menjadikan kekayaan dalam hatinya sekaligus mendapat kehidupan duniawi. Dan (perlu diingat), kehidupan duniawi adalah hina.” –H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi- enjoy-your-success BERUSAHA KEBENARAN REZEKI DAN KESUKSESAN Setelah menyedari kebenaran rezeki dan kesuksesan/keberuntungan yang sesungguhnya, tibalah waktunya nya untuk kita berusaha sedaya upaya untuk mengikut segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya. Kita juga harus berusaha untuk menambahkan amalan-amalan yang dijanjikan oleh Allah SWT yang akan menyebabkan rezeki kita berlipat ganda. Yang paling penting, apa saja yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk mendapat keredhaan Allah SWT. Kita memang dijadikan oleh Allah SWT di atas muka bumi ini untuk bekerja dan bersusah payah dengan tujuan semata-mata untuk menampilkan diri kita sebagai insan cemerlang di hadapanNya. Biar apa pun pekerjaan kita, baik pengutip sampah, penyapu lantai, pengawal keselamatan, kepala sekolah, pemetik buah apel, penjual insuran, doktor pakar bedah, pemungut uang tol dan lain-lain lagi, buat segala-galanya haruslah dengan sebaik baiknya dan berlandaskan ajaran Islam. Amalkan konsep bersederhana, bertanggungjawab dan tekun berusaha sepanjang masa. Janganlah takut untuk mencoba. Janganlah bimbang akan hilang mata pencarian sehingga sanggup mencari rezeki melalui jalan yang haram. Janganlah segan untuk menegur ketidak adilan. Janganlah bingung dan resah dengan masa depan. Janganlah mempertuhankan kerja. Janganlah mendewa-dewakan majikan/boss. Janganlah menyembah kerajaan. Janganlah bergantung dengan makhluk untuk mencapai kesuksesan. Selain daripada itu, sentiasa berusaha menambah ilmu pengetahuan kita supaya dapat meningkatkan kefahaman kita kepada kehendak Allah SWT. Siapa yang maukan dunia, haruslah dengan ilmu. Siapa maukan akhirat, haruslah berilmu, Siapa yang mahukan kedua-duanya, haruslah menambah ilmu pengetahuan. Dengan bekalan ilmu itulah, kita gunakan untuk memperbaiki amalan kita dan meningkatkan martabat kita