Tampilkan postingan dengan label Rezeki Yang Sesungguhnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rezeki Yang Sesungguhnya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Ada Miskin Dan Ada Kaya,Apakah Hikmahnya?

Ass.Wr.Wbr.

Alhamdulillah segala puji bagi allah yang telah memberi nikmat yang berbagai kepada kita.

Allah telah menentukan pembagian rezeki di antara hamba-hamba-Nya, lalu ada yang miskin ada juga yang kaya.
Adapun bagi orang yang ditakdirkan miskin, maka di antara hikmahnya, agar hamba yang miskin tersebut merasa senantiasa membutuhkan Allah, sehingga muncullah berbagai macam bentuk peribadatan dari dirinya.

By : Ismail Haniye

“Si Anu, kasihan hidupnya, tiap hari harus banting tulang hanya sekedar untuk menutup hutang, padahal shalatnya rajin”☺.
“Lha itu, tetanggaku, boro-boro nutup hutang, malah tiap bulan kesulitan nambah hutang”😃.
“Pak fulan mah, orang yang paling enak hidupnya di komplek sini, pulang pergi dianterin sopir pribadi, mana pembantunya di rumahnya lima orang lagi”😮.
“Teman SMA saya sekarang ada yang jadi menteri lho”😎.

Mungkin begitulah kira-kira yang acapkali kita dengar tentang obrolan manusia seputar kaya dan miskin. Adanya orang yang miskin dan kaya adalah perkara yang biasa kita jumpai di sekitar kita.

Yakinilah sobat, bahwa setiap perkara yang ditakdirkan oleh Allah di muka bumi ini, pastilah ada hikmah di balik itu semua,baik kita sadari atau tidak dan kita ketahui atau tidak.

Perbuatan Allah berkisar antara karunia dan ihsan dengan keadilan dan hikmah.
Yakinilah, bahwa jika Allah menghendaki sesuatu untuk terjadi, pastilah hal itu sudah berdasarkan ilmu, kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

Perbuatan Allah tidak pernah kosong dari hikmah dan maslahat serta pasti bersih dari dari kezaliman dan kesalahan. Perbuatan Allah berkisar antara karunia dan ihsan dengan keadilan dan hikmah. Jika Allah memberi, maka memberi dengan karunia dan ihsan-Nya, dan jika mencegah atau memberi cobaan, maka itu dilakukan dengan keadilan-Nya.

Semua perbuatan Allah pasti indah dan terpuji. Tidak ada satupun dari perbuatan-Nya yang tercela dan buruk, dan semua takdir-Nya adalah baik, sempurna dan indah, walaupun peristiwa yang ditakdirkan oleh-Nya (kejadian yang terjadi pada makhluk), ada yang buruk dan tercela.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الله جميلٌ يحب الجمال
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”. (HR. Muslim).

Seluruh alam semesta ini milik Allah dan semua keputusan pengaturan alam semesta terserah Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Adil Allah Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya, Dia ‘Azza wa Jalla melapangkan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebaian yang lain, hal itu dilakukan untuk suatu hikmah yang sempurna, yang berkonsekuensi pada pujian terhadap-Nya atas seluruh keputusan-Nya. Seluruh alam semesta ini milik Allah dan semua keputusan pengaturan alam semesta terserah Allah, justru ini menunjukkan Ketuhanan-Nya yang haq.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى
ٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (An-Nahl: 71).
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِه
ِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-‘Ankabuut: 62).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,

الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم
“Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).

Al-Allamah Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

فمنهم الغني والفقير ، وهو العليم بما يصلح كلا منهم ، ومن يستحق الغنى ممن يستحق الفقر
“Maka diantara mereka (makhluk) ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Dan Dia (Allah) Maha Mengetahui tentang apa yang cocok bagi masing-masing diantara mereka dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok berstatus kaya dan siapa saja yang cocok berstatus miskin” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/165).

Sobat, ingatlah bahwa si miskin dan si kaya, keduanya sama saja di sisi Allah, asal sama-sama bertakwa. Semakin bertakwa seseorang, maka semakin dicintai oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian” (Al-Hujuraat:13).

Hikmah adanya si miskin dan si kaya

Sesungguhnya banyak hikmah dari fenomena adanya si miskin dan si kaya, namun berikut ini sebagiannya saja dari hikmah-hikmah tersebut.

1. Agar makhluk mengetahui Kemahaesaan Allah dalam pengaturan mereka (mentauhidkan Allah dalam Rububiyyah-Nya) Dengan adanya orang yang miskin dan yang kaya, maka seorang hamba terdorong menyakini dengan keyakinan kuat, bahwa hanya Allah lah Sang Pemilik alam semesta ini dan Dia lah satu-satunya Dzat Yang Maha Esa dalam mematikan, mengidupkan, menakdirkan, mengatur alam semesta ini, dan dalam seluruh makna-makna Rububiyyah-Nya. Rabbul ‘Alamin ‘Azza wa Jalla berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (Al-Faatihah).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di atas,

فدل قوله { رَبِّ الْعَالَمِينَ } على انفراده بالخلق والتدبير, والنعم, وكمال غناه, وتمام فقر العالمين إليه, بكل وجه واعتبار.
“Maka firman Allah {رَبِّ الْعَالَمِينَ} menunjukkan kepada Keesaan-Nya dalam penciptaan, pengaturan, nikmat, kesempurnaan kekayaan-Nya. Dan menunjukkan kepada kesempurnaan butuhnya seluruh makhluk (alam semesta) kepada-Nya, dari segala sisi dan sudut pandang” (Tafsir As-Sa’di,hal. 27).

Disebabkan Allahlah satu-satunya Sang Pemilik alam semesta ini, maka Allahlah yang mengatur semuanya dan semuanya dibawah kehendak-Nya. Apa saja yang dikehendaki oleh-Nya pasti terlaksana dan pasti kehendak-Nya itu baik dan sempurna. Rabbul ‘Alamin ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (At-Takwiir: 29).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di atas, أي: فمشيئته نافذة، لا يمكن أن تعارض أو تمانع “Maksudnya kehendak-Nya pastilah terlaksana, tidak mungkin dilawan atau dihalangi” (Tafsir As-Sa’di,hal.1079).

2. Agar si miskin menjadi orang yang sabar dan si kaya menjadi orang yang bersyukur.
Allah telah menentukan pembagian rezeki di antara hamba-hamba-Nya, lalu ada yang miskin ada pula yang kaya. Adapun bagi orang yang ditakdirkan miskin, maka di antara hikmahnya, agar hamba yang miskin tersebut merasa senantiasa membutuhkan Allah, sehingga muncullah berbagai macam bentuk peribadatan dari dirinya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin, seperti banyak berdoa, senantiasa bertawakal, mengharap (raja`), dan mendekatkan diri kepada-Nya dan ia pun berkesempatan meraih derajat orang-orang yang bersabar.

Demikian juga bagi orang yang kaya, ia akan mengetahui dan merasakan betapa besarnya nikmat Allah atas dirinya. Sehingga akan terdorong untuk mensyukurinya, karena ia sadar bahwa kekayaan itu adalah ujian, maka ia berusaha jalani ujian itu dengan sebaik-baiknya, sehingga ia menjadi golongan orang-orang yang bersyukur kepada Allah.
Jika demikian sikap keduanya (si miskin dan si kaya tersebut), maka sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu sama saja bagi seorang muslim, yaitu sama-sama sebagai ujian dari Allah asalkan seseorang sudah sungguh-sungguh berusaha mengambil yang bermanfaat dalam hidupnya sesuai dengan ajaran Allah.

Yang membedakan diantara keduanya hanyalah ketakwaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya” (HR. Muslim).

Wahai saudaraku yang sedang ditakdirkan miskin, tidakkah Anda ingin menggapai janji Allah berikut ini,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar:10).

Wahai saudaraku yang sedang diuji
dengan kekayaan, tidakkah Anda ingin mencontoh sosok figur panutan dalam mensikapi kekayaan, yaitu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, seperti yang dikisahkan dalam kisah berikut ini,

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (An-Naml:40).

3. Untuk kemaslahatan agama dan dunia mereka Allah membagi-bagi rezeki diantara para hamba-Nya agar tegak maslahat agama dan dunia mereka. Kalau seandainya semua hamba-Nya kaya, tentu banyak di antara mereka yang akan bertindak melampaui batas lagi sewenang-wenang, berupa melakukan kemaksiatan ataupun kekufuran.
Namun, jika semua hamba-Nya dijadikan miskin, akan banyak urusan yang terbengkalai, karena banyak urusan umat ini yang memerlukan harta dalam jumlah yang banyak.

Nah, jika semua orang satu tingkatan dalam masalah rezeki, tentulah akan kesulitan bagi sebagian orang untuk memanfaatkan sebagian orang yang lainnya.
Siapa yang akan jadi bawahan dalam perusahaan?
Siapa yang akan jadi pembantu dan sopir pribadi?
Siapa yang akan jadi direktur, jika semua satu derajat dalam kekayaan?
Jika semua orang sama dalam hal rezeki, dimana akan didapatkan kasih sayang dari si kaya kepada si miskin?
Kapan nampak amalan menyambung tali silaturahmi dengan harta?
Rabbul ‘Alamin ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Az-Zukhruf:32).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di atas,

أي: ليسخر بعضهم بعضا، في الأعمال والحرف والصنائع. فلو تساوى الناس في الغنى، ولم يحتج بعضهم إلى بعض، لتعطلت كثير من مصالحهم ومنافعهم.
“Maksudnya agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain dalam aktivitas,profesi,dan produksi/karya. Kalau seandainya manusia sama dalam kekayaan dan sebagian mereka tidak membutuhkan sebagian yang lain, tentu akan terhambat berbagai maslahat dan urusan mereka yang bermanfa’at” (Tafsir As-Sa’di, hal. 908).

Namun, Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui itu telah membagi-bagi rezeki hamba-hamba-Nya. Sehingga manusia tidak sama dalam masalah rezeki. Ada yang kaya dan ada juga yang miskin. Maka Allah memerintahkan orang yang kaya untuk bersyukur dan berinfak dan memerintahkan orang yang miskin untuk bersabar serta mengharapkan kasih sayang dari Ar-Razzaaq.

Oleh karena itu wajib kita ridha Allah sebagai Rabb Sang Pengatur kita,

رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه و سلم نبيّا
“Aku ridho Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai nabiku (yang diutus oleh Allah)” (HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

4. Mengingatkan perbedaan kedudukan mereka di Akhirat.
Adanya perbedaan keadaan manusia dalam masalah rezeki di dunia, mengingatkan kepada manusia kepada perbedaan nasib mereka di Akhirat. Sebagaimana manusia di dunia ini berbeda-beda nasibnya, ada yang tinggal di istana megah dan menaiki mobil yang mewah, namun adapula yang sangat miskin, tinggal di kolong jembatan, jangankan kendaraan, rumah pun hanya sebatas tenda buatan. Nah, di akhirat pun nasib mereka juga berbeda-beda, bahkan perbedaannya lebih besar dan lebih mencolok serta lebih lama.
Allah Ta’ala berfirman,

انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya” (Al-Israa’: 21).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di atas,

{ انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ } في الدنيا بسعة الأرزاق وقلتها، واليسر والعسر والعلم والجهل والعقل والسفه وغير ذلك من الأمور التي فضل الله العباد بعضهم على بعض بها. { وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا } فلا نسبة لنعيم الدنيا ولذاتها إلى الآخرة بوجه من الوجوه. فكم بين من هو في الغرف العاليات واللذات المتنوعات والسرور والخيرات والأفراح ممن هو يتقلب في الجحيم ويعذب بالعذاب الأليم، وقد حل عليه سخط الرب الرحيم وكل من الدارين بين أهلها من التفاوت ما لا يمكن أحدا عده.
“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain) di dunia dengan lapang-sedikitnya rezeki , mudah-sulitnya, berilmu-tidaknya, cerdas-bodohnya dan selainnya dari perkara-perkara yang dengan itu Allah lebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya maka kenikmatan dunia dan kelezatannya dibandingkan kenikmatan dan kelezatan di Akherat tidak ada apa-apany, dilihat dari sisi manapun. Bagaimana jauhnya perbedaan antara orang yang berada di kamar-kamar yang tinggi dan (merasakan) kelezatan yang beranekaragam,kesenangan, kebaikan dan kegembiraan (penduduk Surga) dengan orang yang terbolak-balik di Neraka Jahim, diadzab dengan adzab yang pedih dan telah merasakan kemurkaan Ar-Rabbuur Rahiim (Tuhan Yang Maha Penyayang)? Dan diantara penghuni masing-masing dari kedua tempat tersebut (baca:diantara penghuni dunia dan Akherat) memiliki perbedaan yang tidak mungkin seorangpun ada yang mampu menghitungnya” (Tafsir As-Sa’di, hal.523).

***

Referensi: Tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir As-Sa’di.
Kitab Arzaqul ‘Ibad. —

terimakasih karena sudah berkunjung ke blog ini smoga bermanfaat.

Wss.Wr.Wbr.

Penulis: Ismail Haniye

Artikel : Curahan Hati

Rabu, 17 Agustus 2016

Agar Berjaya Dan Sukses Dalam Mencari Rezeki

By : Ismail Haniye

Ass.Wr.Wbr. smoga salawat dan salam selalu tercurah kepada nabi muhammad SAW. Mudah mudahan saudara/i di beri kesehatan dan dalam lindungan allah ta'ala aminn..

postingan kali ini saya ingin berbagi sedikit pengetahuan yang saya ada dan tidak sekali-kali bermaksud menggurui kepada saudara/i

Masalah rezeki merupakan salah satu perkara yang banyak menyita perhatian manusia, sehingga ada sebagian manusia yang menjadi budak dunia. Bahkan yang lebih parah lagi, sebagian besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan menyempitkan peluang dalam mencari rezeki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam, tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian aturan-aturan di dalam Islam, terutama berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram.
Padahal Sang Khalik mensyariatkan agamaNya bukan hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia didalam perkara keakhiratan saja, tetapi sekaligus menjadi pedoman sukses di dunia juga, seperti doa yang sering dipanjatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka. [Al Baqarah:201]

Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika cara mudah dan sukses di dalam mencari rezeki, membukakan pintu kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah, sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani.

PUJIAN KEPADA ORANG YANG MENCARI NAFKAH

Allah hanya menghalalkan usaha yang bersih dan mengharamkan usaha yang kotor. Seorang muslim tidak boleh menghalalkan segala cara dalam mencari rezeki, lantaran demi mengejar keuntungan semu yang memikat serta menggiurkan. Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya hidup dan perilaku manusia, bahkan menentukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Wahai, manusia! Sesungguhnya Allah Maha Bersih, tidak menerima kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para utusanNya, maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al Mukminun : 51].

Dan Allah berfirman (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah”. [Al Baqarah : 172].
Kemudian Beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kisah seseorang yang sedang bepergian sangat jauh, berpakaian compang-camping, berambut kusut, mengangkat tangan ke atas langit tinggi-tinggi dan berdoa: “Ya, Rabbi! Ya, Rabbi!” sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan darah dagingnya tumbuh dari yang haram; maka bagaimana terkabul doanya?[1]

Berlomba secara sehat dalam mengais rezeki tidak tercela, asalkan dengan menempuh cara yang benar dan usaha yang halal. Bahkan beribadah sambil berusaha pun diperbolehkan, Allah berfirman (artinya) : “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat”. [Al Baqarah : 198]. Abu Umar Ibnu Abdul Bar berkata: “Setiap harta yang tidak menopang ibadah kepada Allah, dan dikonsumsi untuk kepentingan maksiat serta mendatangkan murka Allah, tidak dimanfaatkan untuk menunaikan hak Allah dan kewajiban agama, maka harta tersebut tercela. Adapun harta yang diperoleh lewat usaha yang benar sementara hak-hak harta ditunaikan secara sempurna, dibelanjakan di jalan kebaikan untuk meraih ridha Allah, maka harta tersebut sangat terpuji”. [2]

Allah berfirman (artinya) : “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. ” [Al A’raaf:10]. Ibnu Katsir berkata: “Allah mengingatkan kepada seluruh umat manusia tentang karuniaNya (yang) berupa kehidupan yang mapan di muka bumi, dilengkapi dengan gunung-gunung yang terpancang kokoh, sungai-sungai yang mengalir indah, dan tanah yang siap didirikan tempat tinggal dan rumah hunian, serta Allah menurunkan air hujan berasal dari awan. Dan Allah juga memudahkan kepada mereka untuk mengais rezeki dan membuka peluang maisyah (penghidupan) dengan berbagai macam usaha, bisnis dan niaga; namun sedikit sekali mereka yang mau bersyukur”.[3]

Allah berfirman. (artinya) : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [Al Jumu’ah : 10]. Tentang makna firman Allah “maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” Imam Al Qurthubi menjelaskan : “Apabila kalian telah menunaikan shalat Jum’at, maka bertebaranlah kamu di muka bumi untuk berdagang, berusaha dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupmu”. [4]

Nabi juga pernah mengatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas: “Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, (itu) lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan menjadi beban orang lain”.[5]

Dari Ayyub, bahwa Abu Qilabah berkata: “Dunia tidak akan merusakmu selagi kamu masih tetap bersyukur kepada Allah,” maka Ayyub berkata bahwa Abu Qilabah berkata kepadaku: “Wahai, Ayyub! Perhatikan urusan pasarmu dengan baik, karena hidup berkecukupan termasuk bagian dari sehat wal afiat”.[6]

Yusuf bin Asbath berkata, bahwa Sufyan Ats Tsauri berkata kepadaku: “Aku meninggalkan harta kekayaan sepuluh ribu dirham yang nanti dihisab oleh Allah, lebih aku cintai daripada aku hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.[7]

Beberapa atsar (riwayat) dari para ulama mulia di atas, menepis anggapan bahwa mencari nafkah dengan cara yang benar agar hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain merupakan cinta dunia yang menodai sikap kezuhudan. Padahal tidaklah demikian. Abu Darda’ berkata: “Termasuk tanda kefahaman seseorang terhadap agamanya, adanya kemauan untuk mengurusi nafkah rumah tangganya”.[8]

ISLAM MENCELA PEMALAS DAN PEMINTA-MINTA

Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup dengan orang lain. Sebaliknya, Al Qur’an sangat memuji orang yang bersabar dan menahan diri tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan. Allah berfirman (artinya) : “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. [Al Baqarah : 273]. Imam Ibnul Jauzi berkata: “Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja, melainkan berada dalam dua keburukan. Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakkal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan buat orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan. Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa, kecuali kepada orang yang hina dan gelandangan. Sebab, orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakkal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Boleh jadi seseorang tidak memiliki harta, tetapi masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha”.[9]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri tidak meminta-minta. Dari Tsauban, (ia) berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ تَكَفَّلَ لِي أَنْ لَا يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بِالْجَنَّةِ َفَقُلْتُ أَنَا فَكَانَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شَيْئًا “Barangsiapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apapun kepada seseorang, maka aku akan menjamin dengan surga. Aku berkata: “Saya.” ِMaka ia selama hidupnya tidak pernah meminta-minta kepada seseorang suatu kebutuhan apapun”. [10]

Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, semangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain. Sebab, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri, merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam. Ditegaskan dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Umar, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لَا تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun”.[11]

Agama Islam mengajak umatnya agar bersikap mandiri dalam hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa agar kita berlindung dari sifat malas, lemah, tidak berdaya, pengecut, bakhil dan menjadi beban orang lain. عَنْ أَنَس ابنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله يَقُوْلُ فِي دُعَائِهِ : اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبُنِ وَالْبُخْلِ وَاْلَهَرَمِ وَالْقَسْوَةِ وَاْلغَفْلَةِ وَالْعَيْلَةِ وَالذِّلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ وَأُعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ وَالْفُسُوْقِ وَالشَّقَاقِ وَالنِّفَاقِ وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ وَالْـبَكَمِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَالْبَرَصِ وَسَيئِّ اْلَأسْقَامِ . “Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah selalu membaca dalam doanya: “Ya, Allah! Aku berlindung diri kepadaMu dari tidak berdaya, malas, pengecut, bakhil, lanjut usia, kekerasan hidup, lalai, melarat, kehinaan, dan kerendahan. Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan, kekufuran, kefasikan, kesesatan, kemunafikan, sum’ah dan riya’. Dan aku berlindung kepadaMu dari penyakit tuli, bisu, penyakit kusta, penyakit kulit dan seluruh penyakit yang buruk”.[12]

Sikap malas, hidup yang hanya menjadi beban orang lain dan meminta-minta merupakan perbuatan yang sangat dibenci Islam. Oleh karena itu, seorang muslim harus rajin bekerja dan bersungguh-sungguh berusaha. Meninggalkan anak cucu dalam kondisi berkecukupan lebih baik dari pada mereka hidup terlunta-lunta menjadi beban orang lain, seperti disebutkan dalam firman Allah. (artinya) : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. [An Nisaa’:9]. Imam Al Baghawi berkata, bahwa yang dimaksud dengan “dzurriyatan dhiafan” adalah anak-anak yang masih kecil, yang dikhawatirkan tertimpa kefakiran.[13]

Ali bin Abu Thalhah berkata, bahwa Abdullah Ibnu Abbas berkata: “Ayat di atas turun untuk seseorang saat menjelang ajalnya berwasiat yang merugikan ahli warisnya. Maka Allah menganjurkan kepada orang yang mendengar wasiat tersebut agar bertakwa kepada Allah dan mengarahkan kepada wasiat yang benar dan lurus. Dan hendaknya orang tersebut prihatin terhadap kondisi ahli warisnya, jangan sampai mereka terlantar dan menjadi beban orang lain sepeninggalnya”.[14]

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqas. Saad bertanya: “Wahai, Rasulullah! Saya orang yang banyak harta, sementara saya tidak punya ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Bolehkah saya berwasiat dengan dua pertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan setengah hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan sepertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Boleh dengan sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak,” Kemudian Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan, menjadi beban orang lain. Dan sungguh tidaklah kamu memberi nafkah, kecuali menjadi sedekah buatmu hingga satu suapan yang kamu berikan kepada isterimu.” [15]

Berusaha dengan sungguh-sungguh sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Bekerjalah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu terjadi pada kamu, maka jangan katakan “seandainya aku melakukan hal ini dan itu, pazti begini”. Namun katakan “Allah telah menetapkan dan apa yang telah Dia kehendaki, maka Dia kerjakan”. Karena, kata “seandainya” itu adalah peluang setan. [HR Muslim] Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda: لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ “Seandainya ada seseorang di antara kalian mencari seonggok kayu bakar lalu dipanggul (ke pasar untuk dijual), lebih baik daripada meminta kepada seseorang, terkadang diberi dan terkadang tidak”.[16]

Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai ahli qira’ah. Berlombalah dalam kebaikan, dan carilah karunia dan rezeki Allah, dan janganlah kalian menjadi beban hidup orang lain”.[17]

Said bin Musayyib berkata: “Barangsiapa berdiam di masjid dan meninggalkan pekerjaan, lalu menerima pemberian yang datang kepadanya, maka (ia) termasuk mengharap sesuatu dengan cara meminta-minta”.[18]

Abu Qasim Al Khatli bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa pendapat anda terhadap orang yang hanya berdiam di rumah atau di sebuah masjid, lalu berkata ‘aku tidak perlu bekerja karena rezekiku tidak akan lari dan pasti datang’?” Maka beliau menjawab: “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu. Apakah (ia) tidak mendengarkan sabda Rasulullah : “Allah menjadikan rezekiku di bawah kilatan pedang (jihad)’ “[19]

Sahl bin Abdullah At Tustari berkata,”Barangsiapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti telah membuat kerusakan dalam Sunnah.”[20]

BEKERJA DALAM PANDANGAN ULAMA SALAF

Ada sebagian orang menyangka, bahwa sikap tawakkal menafikan berbagai macam bentuk usaha dan ikhtiar. Padahal, hukum bekerja terkadang wajib, sunah, mubah, makruh ataupun haram, tergantung pada hakikat dan tujuan pekerjaan tersebut. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah manusia yang paling bertawakkal, namun Beliau tetap bekerja; baik dengan pergi ke medan perang maupun berniaga di pasar untuk mencari nafkah, hingga orang-orang kafir berkomentar sebagaimana firman Allah yang (artinya): Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia”. [Al Furqan : 7].[21]

Usaha yang menentukan tegaknya pondasi kehidupan manusia, hukumnya fardhu ‘ain.
Sedangkan usaha yang menentukan kehidupan secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah.
Sehingga, seluruh bentuk aktifitas untuk mendirikan perusahaan dan perindustrian yang menjadi penopang sendi ekonomi umat secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah.[22]

Usaha dalam Islam dibatasi dengan dua perkara; ikhlas dan ittiba’ (mengikuti Rasulullah).
Maka usaha yang dilakukan oleh seorang muslim hanya semata-mata untuk mencari keridho'an Allah dan dilakukan secara benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah.
Oleh sebab itu, kebenaran sebuah usaha tentu saja dilihat dari kesesuaian usaha tersebut dengan syariat.
Allah tidak akan memberikan pahala pada satu amalan, kecuali ditujukan untuk mengharap ridhoNya. Sikap zuhud dan tawakal kepada Allah tidak berkonotasi sebuah aksi pengangguran dan penyandaran nasib hidup kepada orang lain. Sebab, segala bentuk ketergantungan kepada yang selain Allah bisa merusak aqidah dan akhlak, serta merupakan kebiasaan yang tercela.
Tidak ada satu dalil pun yang mengajak umat manusia meninggalkan usaha mencari rezeki dan ikhtiar dengan alasan zuhud dan tawakkal.
Allah tidak melarang hambaNya untuk berusaha, bahkan Allah mencintai segala bentuk usaha asal sesuai dengan kaidah dan prinsip agama.
Tidak ada alasan untuk mencela jalur-jalur usaha yang halal, tetapi yang tercela adalah usaha yang haram, atau melalaikan ibadah kepada Allah sebagaimana firman Allah yang (artinya):
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah”. [An Nur :37]. Imam Ibnul Jauzi berkata,”Sebagian orang tersalah dalam memahami tawakkal. Mereka menyangka, malas bekerja dan berpangku tangan sebagai bentuk tawakkal. Padahal, tawakkal merupakan perbuatan hati yang tidak menafikan gerakan tubuh untuk berusaha.
Jika seorang yang rajin bekerja dianggap tidak bertawakkal, maka para nabi termasuk orang-orang yang tidak bertawakkal.
Sementara Nabi Adam bertani, Nabi Nuh dan Zakaria bertukang, Nabi Sulaiman pembuat anyaman dari daun kurma, Nabi Daud pembuat baju perang, Nabi Musa, Syuaib dan Nabi Muhammad penggembala kambing.” [23]

SIKAP SEIMBANG DALAM MENCARI NAFKAH DAN MENUNTUT ILMU

Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk beribadah. Sementara itu, ibadah tidak akan terealisasi kecuali dengan badan yang sehat. Dan badan sehat diperoleh dari makan yang cukup. Maka Allah menjadikan makanan sebagai pelengkap ibadah.[24]

Abu Hamid Al Ghazali berkata,”Semua hamba Allah dituntut bertemu dengan Rabb-nya dengan membawa pahala. Dan tidak mungkin semua itu tercapai, kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dua pilar dasar, yaitu ilmu dan amal, tidak mungkin terwujud kecuali dengan badan sehat. Dan makanan sebagai sarana utama meraih badan sehat; maka Allah berfirman.(artinya) : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[Al Mukminun:51].[25]

Ilmu dan amal, dalam pandangan Ahli Sunnah merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Bila dua pilar tersebut telah menjalar dan ber akar dalam pribadi seorang muslim, maka akan terpancarlah hidayah dan ketakwaan sebagai pondasi dasar dan bekal utama meretas usaha dan profesi, sehingga Allah menjadikan ketakwaan sebagai ladang keberkahan dan pintu kesuksesan dalam berbagai bentuk usaha. Menjadi kunci penyelesaian bagi seluruh problem kehidupan, sebagaimana firman Allah “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka”. [Ath Thalaq : 2-3].

Di dalam tafsirnya, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari seluruh problem kehidupan dan memberi rezki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Yakni, dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan ambillah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram)”. [HR Al Hakim].

Seorang muslim yang bertakwa sangat dituntut untuk berlaku seimbang dalam mencari ilmu dan mencari nafkah.
Jika kekuatan ilmu dan kekuatan harta bersinergi secara baik, maka akan melahirkan sebuah kekuatan dahsyat dan pengaruh yang positif dalam proses dakwah dan kebangkitan umat.
Dengan begitu, segala kemunduran dan kehinaan yang menimpa umat mampu teratasi.

Menurut pandangan Ahli Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dikotomi antara mencari ilmu dengan mencari nafkah, bahkan keduanya harus saling mendukung. Oleh sebab itu, tidak benar bila berkembang wacana bahwa orang yang mencari ilmu tidak perlu memikirkan urusan maisyah (mata pencaharian/pekerjaan), dan sebaliknya, orang yang mencari nafkah tidak perlu mengganggu profesinya dengan menuntut ilmu agar tidak merusak kariernya.

Hal itu sebuah paradigma yang keliru dan anggapan yang menyesatkan,
sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. (artinya) : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” [Al Qashash:77].

Ayat yang mulia di atas memiliki makna, pergunakanlah harta kekayaanmu dan kenikmatanmu yang melimpah, yang telah diberikan kepadamu sebagai pemberian dan karunia Allah untuk menunaikan ketaatan dan kebaikan yang bisa mendekatkan dirimu kepadaNya. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan hubungan biologis, karena Rabb-mu memiliki hak atasmu dan dirimu memiliki hak atasmu. Keluargamu mempunyai hak atasmu, dan kekuatan tubuhmu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah masing-masing hak sesuai dengan porsinya.[27]

Seluruh Tafsir di atas di petik dari :_______ Footnote
[1]. HR Muslim dalam Kitab Zakat; At Tirmizdi, Ad Darimi dan Ahmad dalam Musnad-nya.

[2]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 26.

[3]. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hlm. 282.

[4]. Tafsir Al Qurthubi, Juz 9, hlm. 71. Dan lihat Tafsir Al Baghawi, Juz 8, hlm. 123.

[5]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), Tirmidzi (2116), Nasai dan Ibnu Majah.

[6]. Diriwayatkan Abu Nuaim dalam Al Hilyah (2/286) dan Abu Hamid Al Ghazali dalam Ihya’ (2/62).

[7]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, Juz 2, hlm. 33.

[8]. Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Ishlahul Mal, hlm. 223; Ibnu Abi Syaibah (34606) dan Al Baihaqi dalam Asy Syuab (2/365).

[9]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.

[10]. HR Abu Daud. Imam Nawawi berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang sahih.

[11]. HR Bukhari, Muslim, dan Nasai dalam Sunan-nya.

[12]. HR Al Hakim dalam Mustadrak, dan beliau berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim (1944) ,dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (1019)”.

[13]. Tafsir Maalimut Tanzil, Al Baghawi, Juz 2, hlm. 170. Lihat juga tafsir Al Qurthubi, Juz 4, hlm. 35.

[14]. Tafsir Ath Thabari, Juz 4, hlm. 181.

[15]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), At Tirmidzi (2116), An Nasai dan Ibnu Majah.

[16]. Muttafaqun ‘alaih.

[17]. Jami’ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 35.

[18]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 300.

[19]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 302.

[20]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299.

[21]. Tahdzib Syarah Thahawiyah, hlm. 301.

[22]. Mala Yasa’ut Tajir Jahluhu, Prof. Dr. Abdullah Muslih. hlm. 78.

[23]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299.

[24]. Ahkamul Ath’imah Fisyariatil Islamiyah, Dr. Abdullah bin Muhammad Ath Thuraiqi, hlm. 30.

[25]. Lihat Ihya Ulumuddin, Juz 2/3 dengan tahqiq Al Allamah Zainuddin Al Iraqi.

[26]. Tafsir Ibnu Katsir (4/400).

[27]. Lihat Tafsir Ath Thabari (20/71), Tafsir Al Baghawi (6 / 221) dan Tafsir Ibnu Katsir (5 / 129).

Semoga artikel di atas sedikit sebanyak dapat bermanfaat bagi saudara/i,sahabat dan teman  mohon maaf atas kesalahan dan segala kekurangan.wabillahi taufiq wal-hidayah Wss.Wr.Wbr.

Artikel : Curahan Hati

Selasa, 16 Agustus 2016

Allah S.W.T Memberi amalan Samahalnya seperti memberi Rezeki

Ass.Wr.Wbr. salawat dan salam mudah-mudahan selalu tercurah kepada rasulullah SAW.
Kali ini saya akan membahas : Sesungguhnya Allah ta'ala memberikan amalan-amalan di antara hamba-Nya sama halnya seperti memberi rezeki. Terkadang seorang hamba dibukakan baginya pintu shalat, tapi tidak terbuka baginya pintu puasa

By : Ismail Haniye

Hidup penuh dengan rasa. Teh (syay orang Arab bilang) sebagai contoh memiliki banyak warna dan rasa. Ada teh China, Inggris,Indonesia dengan melatinya, Srilangka, bahkan Kenya di Afrika sana terkenal dengan tehnya. Warnanya juga berbeda-beda, ada teh hitam, ada teh merah, ada teh hijau dan ada teh putih. Teh putih? Saya pertama kali melihat bungkus teh putih di apotik merasa heran, karena ini pertama kali saya mengetahui ada yang namanya teh putih.

dan Ibadah ternyata juga bermacam dan ragamnya seperti jenis dan warna teh, bahkan jauh lebih banyak lagi. Ada puasa, shalat, haji, jihad, menuntut ilmu, bersedekah, melerai orang yang berselisih, mencarikan jodoh bagi yang belum mendapat jodoh dan banyak lagi lain-lainnya.

Ternyata diantara kita ada yang rajin puasa, ada yang rajin shalat malam, ada yang rajin berdakwah di Facebook, rajin menuntut ilmu, rajin membersihkan masjid, rajin mencari uang dan uangnya disedekahkan bagi anak yatim piatu, bekerja keras untuk membuka lapangan kerja agar para pemuda muslim dapat bekerja dan segera mendapat jodoh, melakukan penelitian ilmiah untuk kebaikan umat Islam dan.. ada banyak dan banyak lagi yang lain-lain yang seumpamanya.

Dan kehidupan itu membutuhkan perbedaan, dengannya kita saling bahu-membahu untuk menjadi hamba Allah, dengannya kita saling bantu-membantu untuk membangun kejayaan bagi umat Islam,
kita juga mengambil bagian darinya sebagai ibadah kita sesuai dengan kemampuan kita yang diberikan oleh Allah ta’ala. Juga sesuai dengan pintu kebaikan yang Allah ta'ala bukakan bagi kita dan ternyata Allah ta'ala memberi rezeki dalam beribadah seperti rezeki dalam harta. Itu bukan kata saya loh...😁,
tapi itu adalah kata ulama berikut dibawah ini.

Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari salah seorang ahli ibadah (ibadah puasa, shalat dstnya/ ibadah dalam arti yang lebih khsusus) rahimahullah mengajak imam Malik bin Anas rahimahullah untuk meninggalkan mengajarkan ilmu dan beribadah seperti dirinya. Imam Malik rahimahullah menjawab:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَسَّمَ بَيْنَ عِبَادِهِ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ فَرُبَّ رَجُلٍ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصَّوْمِ وَآخَرَ فَتَحَ اللَّهُ لَهُ فِي الْجِهَادِ وَلَمْ يَفْتَحْ لَهُ فِي الصَّلَاةِ وَآخَرَ فُتِحَ لَهُ فِي الصَّدَقَةِ وَلَمْ يُفْتَحْ لَهُ فِي الصِّيَامِ وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ نَشْرَ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمَهُ مِنْ أَفْضَلِ أَعْمَالٍ وَقَدْ رَضِيتُ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ لِي فِيهِ وَقَسَمَ لِي مِنْهُ وَمَا أَظُنُّ مَا أَنَا فِيهِ بِدُونِ مَا أَنْتَ فِيهِ مِنَ الْعِبَادَةِ وَكِلَانَا عَلَى خَيْرٍ إِنْ شاء الله “
Sesungguhnya Allah ta’ala memberi amalan-amalan di antara hamba-Nya sama halnya seperti memberi rezeki. Terkadang seorang hamba dibukakan baginya pintu shalat, tapi tidak terbuka baginya pintu puasa (maksudnya memperbanyak yang sunat). Ada yang dibukankan baginya pintu jihad, tapi tidak dalam shalat. Ada juga yang dibukakan baginya pintu sedekah tapi tidak dalam berpuasa.
"Engkau telah mengetahui bahwa menyebarkan dan mengajarkan ilmu merupakan amalan yang utama, dan aku telah ridho terhadap apa yang Allah ta’ala bukakan pintunya bagiku dan yang Dia bagikan untukku.
Dan aku tidak merasa bahwa apa yang aku berada padanya lebih rendah dari apa yang kamu berada padanya dalam ibadahmu. Kita berdua berada di dalam kebaikan insya Allah” (Al-Istidzkar, 5/146).

Ternyata diantara ibadah dan teh ada persamaannya, sama2 banyak jenis dan ragamnya.
Tapi Yang tidak dapat minum teh putih, teh hijau juga oke…😁

mudah-mudahan penjelasan di atas sedikit sebanyak bermanfaat bagi saudara/i,

mohon maaf jika ada kata salah tulis dan kesalahan-kesalahan lainnya silahkan di komen....
saya hanya seorang  yang masih belajar,dan setiap manusia tidak luput dari kesalah.

Semoga saudara/i selalu dalam kebaikan dan perlindungan-Nya… Amiin.

terimakasih dan saya ucapkan wabillahi taufiq wal-hidayah Wss.Wr.Wbr. —

Penulis : Ismail Haniye

Artikel : curahan hati

Jumat, 12 Agustus 2016

7 Cara Mengatasi Kesusahan/Kesulitan Mendapat Rezeki

Sarana untuk Mengatasi Kesulitan Rizqi,
Do’a agar Rizki lancar,
upaya dan usaha (ikhtiar) untuk memperoleh rezeki,
kesuksesan,
kemulyaan,
kekayaan,
keberlimpahan dan keberkahan di dalam hidup.

Mengatasi Kesulitan Rezeki Penulis :

By : Ismail Haniye

Liku-liku kehidupan memang tak bisa dikalkulasi dengan hitung-hitungan. Negeri yang sedemikian makmurnya ini, terancam kekurangan sandang, pangan dan papan.
Kegoncangan melanda di mana-mana. Kegelisahan menjadi selimut kehidupan yang tidak bisa ditanggalkan.
Begitulah kalau krisis ekonomi sudah memakan korban.
Seakan manusia telah lalai, bahwa segala yang terhampar di jagat raya ini ada Dzat yang mengaturnya.

Apakah mereka tidak ingat Allah Ta’ala telah berfirman :“Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Allahlah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud : 6)Keyakinan yang mantap adalah bekal utama dalam menjalani asbab (usaha) mencari rezeki.

"Ar Rahman ",yang menjadikan dunia ini sebagai negeri imtihan (ujian), telah memberikan jalan keluar terhadap problem yang dihadapi manusia.

Di antaranya:

1. Berusaha dan Bekerja

Sudah merupakan sunnatullah seseorang yang ingin mendapatkan limpahan rezeki Allah harus berusaha dan bekerja.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala : “Kalau telah ditunaikan shalat Jum’at maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia.” (QS. Al Jumu’ah : 10)

Rezeki Allah itu harus diusahakan dan dicari. Tapi, kadang-kadang karena gengsi, sombong dan harga diri yang menyebabkan seseorang enggan bekerja. Padahal mulia atau tidaknya suatu pekerjaan itu dilihat apakah pekerjaan tersebut halal atau haram.

2. Taqwa

Banyak orang melalaikan perkara ini, karena kesempitan hidup yang dialaminya.
Dia mengabaikan perintah-perintah Allah, karena tidak sabar menunggu datangnya pertolongan Allah. Padahal Allah Ta’ala telah menyatakan : “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangkanya. ” (QS. Ath Thala : 2) Yaitu ‘dari jalan yang tidak diharapkan dan diangankan-angankan ,’ demikian komentar Qatadah, seorang tabi’in (Tafsir Ibnu Katsir 4/48). Lebih jelas lagi Syaikh Salim Al Hilali mengatakan bahwa Allah Yang Maha Tinggi dan Agung memberitahukan, barangsiapa yang bertaqwa kepada-Nya niscaya Dia akan memberikan jalan keluar terhadap problem yang dihadapinya dan dia akan terbebas dari mara bahaya dunia dan akhirat serta Allah akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (Bahjatun Nadhirin 1/44).

3. Tawakkal

Allah berfirman : “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi (keperluan)nya. ” (QS. Ath Thalaq : 3) Yakni ‘barangsiapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi apa yang dia inginkan,” demikian kata Imam Al Qurthubi dalam dalam Al Jami’ Ahkamul Qur’an, 8/106.
Dan tidak dinamakan tawakkal bila tidak menjalani usaha.
Sesungguhnya menjalani usaha merupakan bagian dari tawakkal itu sendiri.
Oleh karena itu Ibnul Qoyyim mengatakan :“Tawakkal dan kecukupan (yang Allah janjikan) itu, bila tanpa menjalani asbab yang diperintahkan, merupakan kelemahan semata, sekalipun ada sedikit unsur tawakkalnya. Hal yang demikian itu merupakan tawakkal yang lemah.
Maka dari itu tidak sepantasnya seorang hamba menjadikan sikap tawakkal itu lemah dan tidak berbuat dan berusaha.

Seharusnya dia menjadikan tawakkal tersebut bagian dari asbab yang diperintahkan untuk dijalani, dan tidak akan sempurna makna makna tawakkal kecuali dengan semua itu.” (Zadul Ma’ad 2/315). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita dalam riwayat yang shahih : “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki, pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong, (dan) pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. An Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

4. Syukur

Syukur adalah jalan lain yang Allah berikan kepada kaum mukminin dalam menghadapi kesulitan rezeki.

Dalam surat Ibrohim ayat 7 Allah berfirman : “Kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh-sungguh Kami akan menambah untuk kalian (nikmat-Ku) dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat keras.” (QS. Ibrohim : 7)
Oleh karena itu dengan cara bersyukur insya Allah urusan rezeki kita akan di permudah.
Adapun hakikat syukur adalah : “mengakui nikmat tersebut dari Dzat Yang Maha Memberi nikmat dan tidak mempergunakannya untuk selain ketaatan kepada-Nya,” begitu Al Imam Qurthubi menerangkan kepada kita (tafsir Qurthubi 9/225)

5. Berinfaq

Sebagian orang barangkali menyangka bagaimana mungkin berinfaq dapat mendatangkan rezeki dan karunia Allah, sebab dengan berinfaq harta kita akan terus menjadi berkurangan.
Ketahuilah Dzat Yang Maha Memberi Rezeki telah berfirman : “Dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya. ” (QS. Saba: 39)

6. Silaturrahmi

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahmi. “ (HR. Bukhori Muslim)

7. Doa

Allah memberikan senjata yang ampuh bagi muslimin berupa doa.
Dengan berdoa seorang muslim insya Allah akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menuntun kita agar berdoa tatkala kita menghadapi kesulitan rezeki. “Ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya)

Wallahu a’lam bish Showab.

Selasa, 26 Juli 2016

REZEKI DAN KESUKSESAN/KEBERUNTUNGAN YANG SESUNGGUHNYA

Diantara manusia banyak yang berkeinginan untuk mendefinisikan rezeki sebagai perkara yang diperlukan untuk kemandirian hidup semata-mata,contohnya seperti uang, makanan, minuman, pakaian dan lain-lain yang bersifat kebendaan. Selain daripada itu, manusia juga mempunyai keinginan untuk mengukur kesuksesan hidup seseorang hanya berdasarkan aspek materialistik seperti harta, pengaruh, jabatan dan kemewahan. Keinginan kita untuk menyempitkan arti atau makna rezeki dan kesuksesan inilah yang telah menyebabkan kebanyakan manusia sudah diprogram untuk melihat rezeki dan kejayaan daripada perspektif atau pengetahuan yang dangkal. Ia di awali dengan sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan kita telah diprogramkan untuk membelokkan maksud rezeki dan kesuksesan yang sesungguhnya. Dari TK, sekolah hinggalah ke universitas, kita telah dipaksa untuk mempercayai bahawa untuk menjadi sukses dalam hidup, kita perlu mendapat keputusan nilai pelajaran yang cemerlang. Kemudian kita juga dipaksa untuk percaya bahawa hanya beberapa jurusan atau bidang tertentu saja yang dapat memberikan penghasilan yang lumayan. Kita juga disuruh memilih universiti yang hebat kerana kita disarankan bahawa hanya universiti yang terkenal akan menjadikan kita orang yang hebat. Institusi Pendidikan Hanya Menghargai Pelajar Yang Cemerlang Dalam pelajaran Institusi Pendidikan Kita Lebih Bersifat Exam-Oriented dan Gagal Bersifat Holistik. Setelah itu kita pun berbondong-bondong masuk ke alam pekerjaan. Sewaktu bekerja juga, kita diprogramkan untuk percaya bahawa untuk mendapat rezeki yang banyak, kita perlu menuruti kemauan majikan. Kita terpaksa menuruti, mengipas dan mengampu majikan untuk kesuksesan dan naik pangkat. Segala kesalahan dan kesilapan yang majikan kita lakukan di iyakan walaupun itu bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Kita juga sanggup berbohong dan menyalah guna kekuasaan semata-mata untuk naik pangkat. Sikap menusuk dari belakang juga diamalkan semata-mata ingin menyelamatkan mata pencarian. Kita sanggup lihat orang lain menderita semata-mata hanya ingin menjaga periuk nasi sendiri. Yang penting, kita bisa dapatkan jabatan tinggi, berpangkat besar, dan mempunyai gaji yang mahal, mobil yang berkelas,rumah yang besar dan berpengaruh hebat. REZEKI DAN KENYATAANNYA kenyataannya, yang menentukan rezeki bukanlah keputusan pelajaran yang cemerlang, jurusan ataupun universitas yang ternama. Yang menentukan rezeki dan suksesan seseorang juga bukanlah pekerjaan, jabatan, gelaran, pangkat maupun gred gaji seseorang. Yang menentukan kejayaan seseorang juga bukanlah rumah yang besar, mobil yang berkelas, simpanan uang yang banyak dan pendukung yang ramai. Kenyataan yang sebenarnya yang perlu di sadari adalah, rezeki dan kesuksesan seseorang perlulah diukur dari aspek yang telah ditetapkan oleh Pemberi Rezeki dan Pencipta Semua Makhluk yaitu Allah SWT. Rezeki mempunyai pengertian yang amat luas bukan sekedar penghasilan, makanan dan pakaian semata-mata. Bagi setiap hamba Allah, nikmat Islam, Iman dan Ehsan ialah rezeki yang paling besar. Bagi seorang pelajar, ilmu yang bermanfaat dan bertambah merupakan suatu rezeki. Bagi seorang lelaki, isteri yang solehah dan mendamaikan jiwa adalah rezeki. Bagi seorang wanita, suami yang dapat membimbingnya ke jalan Allah SWT dan menyayanginya adalah rezeki. Bagi seorang ibu atau ayah, anak yang soleh merupakan rezeki yang sangat bernilai. Bagi orang yang sakit, kesehatan adalah rezeki yang sangat bermakna. Sahabat atau tetangga yang baik dan senantiasa membantu juga merupakan rezeki atau anugerah. Pengalaman hidup pun merupakan suatu rezeki yang berharga. Bagi setiap manusia juga, ketenangan jiwa dan fikiran merupakan rezeki yang tiada bandingannya. Kesuksesan juga tidak boleh disukat dengan ketinggian pangkat, gelaran-gelaran terhormat, besarnya kereta, besarnya luas kediaman atau banyaknya uang dan emas permata. Kesuksesan harus berlandaskan skema penilaian yang sudah ditetapkan oleh Pencipta kita, Rabbul Jalil, Allah SWT. Ingin ditekankan, bukannya mempunyai keputusan mata pelajaran yang cemerlang itu tidak bagus. Bukannya berjabatan besar itu tidak baik. Bukannya bermaksud mobil berkelas atau punya rumah besar itu tidak baik. Tetapi, apa yang penting, janganlah beri’tiqad bahawa hanya kecemerlangan akademik saja yang bisa menyebabkan kita menjadi sukses dalam hidup dan menganggap kawan kita yang kurang cemerlang akan gelap masa depannya. Juga tidak boleh apabila kita berjabatan tinggi, kita merendah-rendahkan orang yang berada di bawah kita.dan Jangan juga menjadi sombong, riya’ dan takabbur jika dianugerahkan kemewahan, kekayaan dan kemasyhuran. Dan juga jangan sampai aqidah kita berbelok dengan mengatakan hanya majikan atau negara saaja yang mampu memberi rezeki, kerana itu bisa membuatkan kita jauh daripada Allah SWT. Yang ingin ditegaskan adalah, kita perlu sadar tentang prinsip utama kehidupan kita yaitu; Hanya Allah SWT sajalah yang mampu memberi segala rezeki, keberkatan dan kebaikan. Allah SWT jugalah yang berupaya menarik semuanya hingga hilang harta yang kita dapat dalam sekelip mata. MENGUNDANG REZEKI LEBIH PENTING DARIPADA MENCARI REZEKI. Setiap hari kita melihat manusia terburu-buru keluar mencari rezeki. Ada yang keluar dari pagi sampai larut malam. Ada yang mengembara beribu-ribu kilometer. Ada yang menuju ke lautan yang jauh. Ada yang meninggalkan keluarga berbulan-bulan. Ada yang bekerja setiap waktu tanpa henti dari muda sampai ke tua. Dan untuk mendapatkan rezeki, ada yang sanggup menipu dan merampas harta orang lain. Ada yang sanggup berbunuh-bunuhan. Ada yang sanggup melakukan pekerjaan yang terkutuk dan hina. Ada juga yang sanggup melanggar larangan Allah seperti riba dan korupsi. Namun anehnya rezeki yang dicari tidak cukup-cukup. Makin dibanting kekuatan, hasilnya tidak cukup juga. Makin dikumpul, makin berkurangan. Ada yang gaji puluhan juta, ujung bulan licin juga. Hutang-hutang pun bertumpuk. Ke mana perginya uang pun tidak diketahui. Semua ini terjadi kerana ramai yang tidak mengerti kenyataan yang sebenarnya tentang rezeki. Kita perlu tahu bahawa rezeki kita sebenarnya ditetapkan oleh Pemberi rezeki iaitu Allah SWT. Yang menentukan rezeki kita bukan pekerjaan atau jabatan kita. Yang menentukan rezeki bukan majikan atau bos kita. Tetapi kita perlu yakin dan beri’tiqad bahawa yang menentukan qada’ dan qadar serta rezeki kita hanya Allah SWT semata-mata. Apabila kita sadar bahawa Allah SWT ialah satu-satunya Pemberi rezeki dan rezeki kita ditulis oleh Allah SWT, tidak ada gunanya kita mencari rezeki bermati-matian jika Allah SWT tetap tidak mengizinkan kita untuk memilikinya. Oleh sebab itu, kita haruslah mendahulukan perbuatan mengundang rezeki sebelum mencari rezeki. Apabila sudah tahu dimanakah terletaknya rezeki, pasti lebih mudah untuk kita mendapatkannya daripada dengan membuang waktu untuk mencarinya. Di manakah terletaknya rezeki? Rezeki terletak hanya di tangan Pemberinya semata-mata yaitu Allah SWT. Dialah yang membuka dan menutup pintu rezeki. Dialah yang menambah dan mengurangkan rezeki. Jadi bagaimanakah caranya untuk mengundang rezeki? Kita haruslah melakukan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya yang dikehendaki oleh Pemberi rezeki. Yakinlah dengan janji-janjiNya. Pujilah Dia. Pujilah Dia. Memohonlah kepadanya. Sayangilah Dia. Sayangilah orang yang disayangiNya. Mohonlah kepadaNya. Dan janganlah berputus asa dengannya. Berbuat baiklah sebagaimana disuruh kepada sesama makhluk. Jalinkan silaturrahim sesama insan sebagaimana yang diperintahkanNya. Sebarkanlah dan berbagilah kepada makhluk yang lain tentang perkhabaranNya dan ancamanNya. Ceritakanlah kepada manusia lain tentang kehebatanNya JANJI-JANJI ALLAH SWT DALAM MEMBERI REZEKI: 1)Bertaqwa : Bertaqwa merupakan syarat utama untuk menjemput rezeki. Taqwa artinya takut kepada Allah dengan menjauhkan perkara yang diharamkan oleh Allah SWT dan menahan diri daripada dosa. Melakukan segala suruhan Allah SWT juga merupakan suatu bentuk ketaqwaan. 2) sholat: Nabi Muhammad SAW bersabda : ” Solat ialah salah satu perkara yang disukai oleh Allah S.W.T. sholat juga perbuatan yang dicintai oleh para malaikat,dan sholat adalah sunnah Ambiyaa` Alaihi Mussolatu Wassalam, Nur (cahaya) kepada ma`rifah dicapai dan doanya diterima, dan keberkahan rezeki didapati.” Sahabat Nabi juga penah berkata: “Apabila isi rumah dan bekalan makanan di rumah Nabi S.A.W berkurangan dan tidak ada, Baginda menyuruh isi rumahya menunaikan sholat dan membaca ayat: ” Dan perintahkanlah keluargamu serta umatmu mengerjakan sembahyang, dan hendaklah Engkau tekun bersabar menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadaMu, (bahkan) Kamilah Yang memberi rezeki kepadamu. dan (ingatlah) kesudahan Yang baik adalah bagi orang-orang Yang bertaqwa.” surah: (Taha :132) 3) Bersegera Untuk Allah SWT: Nabi Muhammad bersabda: “Tuhanmu telah berfirman: ‘Wahai anak Adam,sempatkanlah untuk beribadah kepadaKu, maka Aku akan penuhi hatimu dengan rasa kaya dan Aku akan penuhi kedua-dua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam, janganlah kamu menjauhi Aku, maka Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan kedua-dua tanganmu dengan kesibukan’.”- H.R Imam Al-Hakim daripada Mu’aqqal bin Yassar r.a.- 4) Istighfar: Saidina Abbas R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi .S.A.W bersabda, “Seseorang yang kerap mengucapkan istighfar,yang mana ianya meminta keampunan dari Allah S.W.T atas dosa yang dia telah buat,maka Allah S.W.T akan membuka jalan-jalan penyelesaian dari kemiskinan dan kesusahan. Segala penderitaan dan kesusahan akan dialihkan dan pada tempatnya kemakmuran dan kesejahteraan akan didapati yang mana seseseorang itu akan menerima rezeki dari sumber yang tidak diketahui dan tidak dijangka sumbernya.” 5) Tawakkal: Tawakkal pada Allah S.W.T boleh diartikan dan ditakrifkan sebagai berharap sepenuhnya kepada Allah S.WT di dalam penerangan yang lebih terperinci ianya bermaksud seratus persen berserah dan berharap kepada Allah SWT yang akan memberi rezeki. Tawakkal juga menggesa kita mempercayai bahawa jika semua mahluk ciptaanAllah S.W.T berkumpul dan datang untuk mengubah sesuatu, maka pasti mereka tidak mampu mengubahnya kecuali dengan izin Allah SWT Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, pasti kamu diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (H.R Umar bin al-Khattab dari Imam Ahmad, At-Tirmizi.) 6) Infaq Di Jalan Allah SWT: Ramai yang heran bagaimanakah harta akan bertambah jika kita memberikan harta kita kepada orang? Disebabkan perasaan khawatir itu jugalah, ramai yang tidak sanggup bersedekah atau beramal kerana khawatir hartanya berkurangan. Anehnya, ramai juga orang yang tidak beriman yang rajin bersedekah kerana mereka percaya ia boleh menambahkan lagi kekayaan mereka. Robert Kiyosaki pernah menulis tentang antara rahsia kekayaannya ialah, sewaktu ekonominya tidak stabil, dia akan mencari apakah barangan yang paling disayanginya, lalu dia akan menyumbangkan barang yang paling disayanginya dan dia akan dikaruniakan rezeki yang berganda selepas itu. Warren Buffet yang pernah tersenarai sebagai orang paling kaya di dunia pun yakin dengan amalan menyumbang dan bersedekah. Dia pernah menyumbang setengah hartanya berjumlah US 30 milyar semata-mata untuk kebajikan manusia. Heran bin ajaib. Sepatutnya orang Mukmin lebih terkehadapan di dalam bab bersedekah dan menderma. Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: “Berilah (belanjalah) dan janganlah kamu selalu menutupi kepunyaanmu, kerana dengan itu nanti Allah akan menutupi rezekimu.” -Hadis Riwayat Bukhari & Muslim- 7) Menyambung Silaturrahim: Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.” 8) Berhijrah: Dalam al-Quran terdapat satu ayat yang menyatakan tentang orang yang berhijrah akan memperolehi banyak rezeki. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (An-Nisa’: 100) 9) Tinggalkan Perbuatan Dosa : Tiada gunanya beristighfar jika masih melakukan dosa. Dosa bukan saja membuat hati resah malah menutup pintu rezeki. Sabda Nabi S.A.W.: “… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” – [Riwayat at-Tirmizi] 10) Berbakti Dan Mendoakan Ibu dan bapak: Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah S.A.W. berpesan agar siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, hendaklah berbakti kepada ibu bapaknya dan menyambung tali kekeluargaan. Baginda S.A.W. juga bersabda: “Siapa berbakti kepada ibu bapaknya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah S.W.T.akan memanjangkan umurnya.” – [Riwayat Abu Ya’ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim] 11) Berbuat Baik Dan Menolong Orang Yang Lemah : Berbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuklah menggembirakan dan membahagiakan orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin, juga isteri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi S.A.W.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di kalangan kamu.” – [Riwayat Bukhari] 12) Perbanyak Berbuat Kebaikan : Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya kebaikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain. Manakala kejahatan bisa menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya.” 13) Mengerjakan Sholat Malam(tahajjud) : Ada keterangan bahawa amalan solat tahajjud memudahkan memperoleh rezeki, menjadi sebab seseorang itu dipercayai dan dihormati orang dan doanya dimakbulkan Allah S.W.T. 14) Mengerjakan sholat Duha : Amalan solat Duha yang dibuat waktu orang sedang sibuk dengan urusan dunia (aktiviti harian), juga mempunyai rahsia tersendiri. Firman Allah S.W.T.dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya.” – [Riwayat al-Hakim dan Thabrani] 15) Bersyukur Kepada Allah SWT. : Syukur artinya mengakui segala pemberian dan nikmat dari Allah S.W.T.. Lawannya katanya adalah kufur nikmat. Allah S.W.T.berfirman: “Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku amat keras.” – [Ibrahim: 7] 16) Mengamalkan Dzikir Dan Bacaan Ayat Al-Qur’an Tertentu : Dzikir dari ayat-ayat al-Quran atau asma’ul husna selain menenangkan, menjernihkan dan melembutkan hati, ia mengandungi fadilah khusus untuk keluasan ilmu, terbukanya pintu hidayah, dimudahkan memahami agama, diberi kemanisan iman dan dilapangkan rezeki. Misalnya, dua ayat terakhir surah at-Taubah (ayat 128-129) jika dibaca secara konsisten tujuh kali setiap hari sesudah sholat, Insya-Allah dikatakan boleh menjadi sebab Allah S.W.T. melapangkan kehidupan dan memurahkan rezeki. Selain itu, salah satu nama Allah S.W.T., yakni al-Fattah (Maha Membukakan) dikatakan dapat menjadi sebab dibukakan pintu rezeki jika diwiridkan selalu. Contohnya dibaca “Ya Allah ya Fattah” berulang-ulang, diiringi doa: “Ya Allah S.W.T., bukalah hati kami untuk mengenali-Mu, bukalah pintu rahmat dan keampunan-Mu, ya Fattah ya ‘Alim.” Ada juga hadis menyebut, barang siapa yang mengamalkan bacaan surah al-Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan ditimpa kepapaan. Wallahu a’lam. 17) Berdoa : Berdoa menjadikan seorang hamba dekat dengan Allah S.W.T., penuh bergantung dan mengharap pada rahmat dan pemberian dari-Nya. Dalam al-Quran, Allah S.W.T. menyuruh kita meminta kepada-Nya, niscaya Dia akan perkenankan. 18) Berikhtiar sehabis-habisnya : Siapa yang berusaha, dia yang akan berjaya. Ini sudah menjadi sunnatullah. Dalam satu hadis sahih dikatakan bahawa Allah S.W.T. memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya, tetapi agama Allah S.W.T. hanya diberi kepada orang yang dicintai-Nya saja. – [Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim] Bagi orang beriman, tentulah dia perlu mencari sebab-sebab yang bisa membawa kepada murah rezeki dalam skop yang luas. Misalnya, jika mau tenang membaca Quran, jika mau mendapat anak yang baik di didiknya sejak anak itu masih di dalam rahim, jika mau sehat dijaganya pemakanan dan makan makanan yang baik serta halal, jika mau dapat tetangga yang baik dia sendiri berusaha menjadi baik, jika mau rezeki berkah jauhilah yang haram, dan sebagainya. 19) Bertawakal : Dengan tawakal, seseorang itu akan di beri rezeki rasa kaya oleh Allah S.W.T. seperti firman-Nya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah S.W.T., niscaya Allah S.W.T. mencukupkan (keperluannya).” – [At-Talaq: 3] Banyak lagi amalan-amalan lain yang dapat menambahkan lagi rezeki dan keberkatan hidup kita yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dan diajarkan oleh Rasulullah SAW. Marilah menambahkan keyakinan kita terhadap kebenaran janji-janji Allah SWT. KESUKSESAN/KEBERUNTUNGAN YANG SEBENARNYA Allah SWT telah mengemukakan beberapa kriteria yang dikehendaki untuk menjadi Orang Yang sukses di dalam Surah Al-Mukminun: 1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman 2. (Iaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam solatnya 3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna 4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat, 5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, 6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba yang mereka miliki ; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. 7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas 8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, 9. Dan orang-orang yang memelihara solatnya 10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi 11. (Iaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Nabi Muhammad SAW memberikan pesanan: “Barangsiapa yang hidup di duniawi menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah menjauhkan dirinya dari tujuannya, dan meletakkan kefakiran di hadapan biji matanya. Ia tidak mendapatkan kehidupan dunia, melainkan apa yang telah ditentukan baginya. Barangsiapa yang tujuan hidupnya akhirat dan menjadikan niat utamanya, nescaya Allah akan menyatakan dirinya dengan tujuannya, dan menjadikan kekayaan dalam hatinya sekaligus mendapat kehidupan duniawi. Dan (perlu diingat), kehidupan duniawi adalah hina.” –H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi- enjoy-your-success BERUSAHA KEBENARAN REZEKI DAN KESUKSESAN Setelah menyedari kebenaran rezeki dan kesuksesan/keberuntungan yang sesungguhnya, tibalah waktunya nya untuk kita berusaha sedaya upaya untuk mengikut segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya. Kita juga harus berusaha untuk menambahkan amalan-amalan yang dijanjikan oleh Allah SWT yang akan menyebabkan rezeki kita berlipat ganda. Yang paling penting, apa saja yang kita lakukan haruslah diniatkan untuk mendapat keredhaan Allah SWT. Kita memang dijadikan oleh Allah SWT di atas muka bumi ini untuk bekerja dan bersusah payah dengan tujuan semata-mata untuk menampilkan diri kita sebagai insan cemerlang di hadapanNya. Biar apa pun pekerjaan kita, baik pengutip sampah, penyapu lantai, pengawal keselamatan, kepala sekolah, pemetik buah apel, penjual insuran, doktor pakar bedah, pemungut uang tol dan lain-lain lagi, buat segala-galanya haruslah dengan sebaik baiknya dan berlandaskan ajaran Islam. Amalkan konsep bersederhana, bertanggungjawab dan tekun berusaha sepanjang masa. Janganlah takut untuk mencoba. Janganlah bimbang akan hilang mata pencarian sehingga sanggup mencari rezeki melalui jalan yang haram. Janganlah segan untuk menegur ketidak adilan. Janganlah bingung dan resah dengan masa depan. Janganlah mempertuhankan kerja. Janganlah mendewa-dewakan majikan/boss. Janganlah menyembah kerajaan. Janganlah bergantung dengan makhluk untuk mencapai kesuksesan. Selain daripada itu, sentiasa berusaha menambah ilmu pengetahuan kita supaya dapat meningkatkan kefahaman kita kepada kehendak Allah SWT. Siapa yang maukan dunia, haruslah dengan ilmu. Siapa maukan akhirat, haruslah berilmu, Siapa yang mahukan kedua-duanya, haruslah menambah ilmu pengetahuan. Dengan bekalan ilmu itulah, kita gunakan untuk memperbaiki amalan kita dan meningkatkan martabat kita

Senin, 25 Juli 2016

Rezeki Yang Sesungguhnya

Rezeki yang sesungguhnya, 

dan yang menentukan rezeki bukanlah keputusan nilai mata pelajaran yang cemerlang, jurusan ataupun universitas yang ternama. 

Yang menentukan rezeki dan kesuksesan seseorang juga bukanlah: pekerjaannya, jabatan, gelaran, pangkat maupun gred gaji seseorang. 

Yang menentukan kejayaan seseorang juga bukan rumah yang besar, mobil yang mewah, simpanan uang yang banyak dan pendukung yang ramai. 


Kenyataan  yang sebenarnya yang harus kita disadari adalah, rezeki dan kesuksesan seseorang haruslah diukur dengan aspek yang telah ditetapkan oleh Pemberi Rezeki dan Pencipta Semua Makhluk yaitu Allah SWT. 

Rezeki mempunyai pengertian yang amat luas bukan sekedar pendapatan/penghasilan, makanan, pakaian semata-mata. 


Bagi setiap hamba Allah, nikmat Islam, Iman dan Ehsan ialah rezeki yang paling besar. 

Bagi seorang pelajar, ilmu yang bermanfaat dan bertambah juga merupakan  rezeki. 

Bagi seorang lelaki, isteri yang solehah dan mendamaikan jiwa adalah rezeki. 

Bagi seorang wanita, suami yang dapat membimbingnya ke jalan Allah SWT dan menyayanginya adalah rezeki. 

Bagi seorang ibu atau ayah, anak yang soleh merupakan rezeki yang amat bernilai. 

Bagi orang yang sakit, kesehatan adalah rezeki yang sangat bermakna. 

Sahabat atau tetangga yang baik dan selalu membantu juga merupakan rezeki atau anugerah. 

Pengalaman hidup pun merupakan suatu rezeki yang berharga. 

Bagi setiap manusia juga, ketenangan jiwa dan fikiran merupakan rezeki yang tiada bandingannya. 

Kesuksesan juga tidak bisa disukat dan diukur dengan ketinggian pangkat, gelaran-gelaran terhormat, besarnya mobil, besarnya tempat tinggal atau banyaknya uang dan emas permata. 

Akan tetapi Kesuksesan haruslah berlandaskan skema penilaian yang sudah ditetapkan oleh Pencipta kita, Rabbul Jalil, Allah SWT. 

Ingin saya tekankan, : Bukannya mempunyai keputusan pelajaran yang cemerlang itu tidak bagus. 

Bukannya berjabatan besar atau tinggi itu tidak baik. 

Bukannya bermakna punya mobil besar atau rumah yang besar itu tidak baik. 

Tetapi, apa yang penting, janganlah beri’tiqad bahawa hanya kecemerlangan AKADEMIK saja yang bisa menyebabkan kita jadi sukses dalam hidup dan menganggap kawan kita yang kurang cemerlang  masa depannya akan gelap. Dan juga Jangan  apabila kita berjabatan tinggi, kita merendah-rendahkan orang yang berada di bawah kita. Dan juga Janganlah menjadi sombong, riya' dan takabbur bila dianugerahkan kemewahan, kekayaan dan kemasyhuran. Janganlah juga berbelok aqidah dengan mengatakan hanya majikan atau pemerintahan saja yang mampu memberi rezeki, karena itu bisa membuat diri kita jauh daripada Allah SWT. 

Yang ingin ditegaskan adalah, kita perlu sadar tentang prinsip utama kehidupan kita yaitu; Hanya Allah SWT sajalah yang mampu memberi segala rezeki, keberkahan dan kebaikan. Allah SWT jugalah yang berupaya menarik semuanya hingga hilang harta yang didapat dalam sekelip mata.