Tampilkan postingan dengan label Harta Kekayaan Menurut Pandangan Islam Dan Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harta Kekayaan Menurut Pandangan Islam Dan Barat. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016

Pengertian/Maksud Rezeki Di Dalam Islam

kali ini saya akan menerangkan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang pengertian maksud rezeki di dalam islamyang sebenarnya di dalam Islam? Rezeki di dalam Islam bukan hanya terbatas kepada uang dan harta. Jangkauan rezeki yang disebut oleh Allah S.W.T dan Rasullullah S.A.W. ter amat luas meliputi rezeki yang kita ketahui. Hakikatnya orang yang ‘memberi' dan menyumbang akan mendapat ganjaran dari Allah dalam nermmacam-macam bentuk , juga meliputi materi dan spiritual. Namun sebelum itu, perlu dipahami, sebagaimana rezeki yang tidak bisa dikecilkan skopnya hanya kepada harta, begitu juga ‘pemberian' dan ‘sumbangan' yang juga tidak terbatas kepada uang dan harta.Mengajak orang kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran adalah sebuah pemberian berharga, membantu mereka yang melakukan kerja yang baik itu pemberian, dan menahan diri dari berbuatmaksiat itu juga merupakan sebuah pemberian sangat bernilai. dan yang jelas, semua jenis ‘pemberian' dan ‘sumbangan' itu adalah amalan kebaikan apabila ia menepati dua syarat yang paling minimal yaitu :- 1) Ikhlas karena Allah 2) sumbangan ke arah kebaikan berdasarkan penilaian hukum Islam. malah, apa saja yang disumbangkan, sama ada ide, ilmu, teguran, nasehat, tenaga untuk kerja, waktu, perasaan, emosi dan sebagainya untuk membawa kebaikan kepada Islam, ia adalah sumber terbukanya rezeki di sisi Islam. Ia juga merupakan sumber mewujudkan unsur ‘berkah' di dalam kehidupan dan harta. Setinggi-tingginya derajat insan sholeh, dia mampu mengekang dirinya di saat menyumbang dari dipengaruhi oleh fikiran atau bisikan seperti, "apa balasannya di dunia"?. seharusnya yang akan menjadi dorongan dan motivasi utama hanyalah apa yang bakal didapat di akhirat. Bukan balasan di dunia yang difikirkan. Apa yang diinginkan untuk dunianya hanyalah mendapatkan rezeki yang BAROKAH atau berkah. Menurut para ulama ‘barokah' atau berkah itu adalah :- هي ثبوت الخير الإلهي في الشيء؛ فإنها إذا حلت في قليل كثرته، وإذا حلت في كثير نفع، ومن أعظم ثمار البركة في الأمور كلها إستعمالها في طاعة الله عز وجل. Artinya : yaitu kepastian kebaikan disisi Ilahi pada sesuatu perkara, dimana apabila ia jatuh kepada perkara yang sedikit ia akan menambah atau memperbanyaknya, dan apabila ia jatuh kepada yang banyak, ia akan menambah manfaatnya, dan sehebat-hebatnya hasil keberkahan dalam seluruh perkara adalah apabila ia digunakan kembali untuk membawa ketaatan kepada Allah azza wa jalla. Walaupun begitu, tidak ramai manusia yang mampu mencapai derajat tersebut, dan masih ramai individu sholeh yang melakukan kebaikan, namun masih sering terfikir-fikir tentang balasan untuknya untuk dinikmati di dunia ini. HASIL YANG KITA DAPATI untuk membuka fikiran kita semua akan bentuk-bentuk balasan yang mampu mendapatkan hasil dari segala sumbangan kebaikan yang kita lakukan di dunia ini. Secara ringkas, saya berikan ganjaran yang bisa didapatkan sejak masih dari alam dunia ini, semua ganjaran-ganjaran ini mempunyai dalil dan athar yang tersendiri, namun untuk menghindari terlalu berpanjangan, saya tidak menyertakan semua dalilnya. Balasan tersebut adalah seperti berikut :- a. Keberkahan dalam kehidupan berkeluarga - Rumahtangga kita didamaikan oleh Allah dari sejenis pertengkaran besar yang meruntuhkan kepercayaan dan kebahagian si suami, isteri dan anak. - Hati dan fikiran dikaruniakan ketenangan yang akhirnya memberikan kesan positif kepada produktiviti kita di tempat kerja dan tugas, lalu mendapat kenaikan gaji dan pangkat. b. Kesehatan - Allah menyelamatkan kita dan keluarga dari penyakit. Nabi bersabda : صنائع المعروف تقي مصارع السوء والآفات والهلكات Artinya : Melakukan perkara kebaikan mampu menghalang dari terjerumus kedalam keburukan, kecatatan dan kebinasaan. (At-Tabrani, Al-Haitahami : sanadnya Hasan) - Kita diselamatkan dari musibah dan bencana seperti di jalanraya, di dalam rumah, luar rumah, di tempat kerja dan sebagainya. Namun harus diingat, ADA JUGA TERDAPAT HARTA YANG BERKAH TETAPI DITIMPA MUSIBAH DAN BENCANA, namun tanda berkahnya adalah bencana dan musibah itu membawanya lebih hampir kepada Allah dan bukan semakin jauh. Itulah fungsi keberkahan harta itu, ia hilang dan ditimpa musibah sebagai sebab untuk kebaikan si pemiliknya.JUSTERU, bukan tugas kita untuk menuduh harta si pulan itu berkah atau tidak berkah setiap kali ditimpa musibah, kerana kita TIDAK TAHU HAKIKAT SEBENARNYA. - Dikaruniakan keturunan yang sehat walau sakit sekalipun , ia tidak separah mereka yang lebih parah sakitnya. c. Harta - Dihindarkan dari mendapatkan pekerjaan yang haram dan terselamat dari berbagai jabatan atau kenaikan pangkat yang memudaratkan masa depan. harus diingat bukan semua kenaikan pangkat itu baik untuk hati dan jiwa manusia, ada sebagian besar jabatan yang menghancurkan dan mengubah habis jiwa kebaikan dalam diri seseorang kepada jiwa penerima korupsi, tamak, rakus kuasa dan sebagainya. - Direndahkan minat dan nafsu kepada harta dan penghasilan haram serta diberi kekuatan untuk istiqomah kepada yang halal. Inilah yang bisa atau dapat digelar sebagai salah satu dari cabang ‘zuhud', yaitu KEBEBASAN JIWA DAN HATI DARI KETERIKATAN DENGAN HARTA DUNIA. Jika mendapatkan, syukur dipanjatkan, jika ia hilang dan pergi tidaklah terlalu ditangisi. - Diberikan rasa cukup dan nyaman dengan penghasilan yang didapat saat ini walaupun sebenarnya kelihatan kurang mencukupi. Inilah dinamakan oleh ulama tasauf sebagai "Qana'ah" iaitu merasa cukup dengan apa yang telah ada, tetapi tidak berhenti untuk terus memperbaiki diri dan kerja. - Kendaraan yang digunakannya jauh lebih baik daripada kendaraan yang jauh lebih mahal darinya. Begitu juga harta-hartanya yang lain seperti rumah dan lokasinya, diberi rezeki oleh Allah untuk berada di persekitaran yang baik, bertetangga dengan mereka yang tidak menimbulkan banyak masalah. - Sumber penghasilan tambahan bisa datang tidak disangka-sangka. Ia tidak semestinya dalam waktu dekat, ia mungkin terjadi 10 atau 20 tahun yang akan datang. Ini termasuklah di dalam tawaran Allah yang disebut di dalam surah : at-Talaq, yang dinamakan oleh kebanyakan orang sebagai ayat seribu dinar : وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا Artinya : Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ( At-Talaq : 2-3) Namun harus diperhatikan sejelas-jelasnya, ayat di atas mensyaratkan seseorang untuk menjadi ‘BERTAQWA' sebagai jalan agar dibukakan jalan kemudahan dan kebaikan dari berbagai sumber yang tidak disangka. Sama sekali tidak tepat pandangan ramai orang yang mengaitkan ‘Menggantung' ayat tersebut di rumah dan ditoko sebagai cara meningkatkan rezeki dan penghasilan, tanpa bersifat taqwa di dalam pekerjaan, perdagangan dan tugas. Sedangkan hakikatnya, taqwa itulah kuncinya, bukan dengan cara,MENGGANTUNG AYAT, tersebut dan sebagainya. Ibn Abbas menegaskan maksud jalan keluar di atas sebagai jalan keluar dari perkara syubhat di dunia, jalan keluar untuk menghadapi kematian, dan kesusahan di hari kiamat. (Tafsir Al-Qurtubi) d. Persekitaran yang baik - Dipermudah oleh Allah untuk berada di tempat dan persekitaran yang baik dan tidak berbahaya untuk diri dan keluarga. - Kewujudannya menjadi pelopor kepada kebaikan mereka yang disekitarnya, mencegah dari kemaksiatan. Ia bertepatan dengan sebuah sabda Nabi: إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر وإن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه وويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه Artinya : Dari kalangan manusia ada yang menjadi kunci kebaikan dan penutup serta penghalang kepada kejahatan. Dan ada juga yang menjadi kunci kejahatan dan penutup kebaikan, bergembiralah bagi sesiapa yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci kebaikan di tangannya, dan celakalah mereka yang kunci kejahatan di tangannya ( Riwayat Ibn Majah : Sohih ) KESIMPULAN Terlalu banyak cara dan kaedah untuk Allah membalas baik prasangka hambaNya dan amalan kebaikan hambaNya. baik di dunia atau akhirat. Lalu apa yang menjadi penghalang ? yang menjadi penghalangnya hanyalah ‘hati' masing-masing individu. Jika hati itu masih belum mampu menyakini maha Pemurahnya Allah ta'ala. Masih belum bisa menyakini Allah akan membalasnya. Masih belum yakin wujudnya Allah dan ganjaran atau pahala kebaikan-Nya. Selagi kita tidak yakin, seseorang itu akan senantiasa dihambat berbagai perasaan tamak, kedekut atau pelit dan malas ketika ingin memberi. Gejala awal penyakit tersebut adalah ‘malas' dan dikuti terus-menerus melakukan dosa dan merasa jalan ‘dosa' itu adalah cara pendapatan yang terbaik baginya. Individu seperti ini sama sekali tidak sadar, keterlibatannya dalam perkara haram HANYA AKAN LEBIH MENAMBAH JAUHNYA DIA DARI BERBAGAI REZEKI HARTA DAN KETENANGAN. Nabi pernah bersabda : لا يزيد في العمر إلا البرولا يرد القدر إلا بالدعاء وإن الرجل ليحرم الرزق للخطيئة يعملها Artinya : Tidak bertambah umur seseorang kecuali jika dia melakukan kebaikan[1], dan tidak akan di kurangi qadar Allah (iaitu qadar al-Mu'allaq) kecuali melalui doa, dan sesungguhnya seseorang itu DITAHAN REZEKINYA disebabkan dosa-dosa yang senantiasa dilakukannya" ( Riwayat Ibn Majah, Ahmad Hadis Hasan) Justru, jangan jadikan posisi kesusahan diri di waktu ini sebagai excuse untuk melibatkan diri dalam perkara yang haram, karana ia sama sekali bukan jalan keluar tetapi ia jalan buntu dan hanya akan memperluas bencana kepada diri-sendiri dan keluarga. Imam Ibn Kathir pernah mengulas bahawa apabila manusia melupakan soal dosa pahala dalam harta dan kehidupan mereka maka وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ Artinya : Tetapi mereka telah mendustakan (tidak patuh kepada hukum Islam), maka kami rampas dari mereka apa-apa yang telah mereka usahakan (Al-A'raf : 96 ) . PERKEMBANGAN POTENSI, JANGAN ASYIK MEMBUAT ‘EXCUSE' Apa yang harus dilakukan adalah memanfaatkan uang simpanannya untuk mempelajari ilmu yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri, bukan dengan menceburi bidang/skim haram itu. Dan kemudian mengemukakan alasan serta excuses yang bermacam-macam. Lihatlah ulama tabi'en berkata : من طلب العلم تكفل الله برزقه Artinya : Barangsiapa yang menuntut ilmu Allah seolah-olah telah menjamin rezekinya ( Kanzul Ummal, 10/139) Ilmu itulah yang akan menerangkan jalan kita untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, dalam keadaan halal dan selanjutnya membuka lebih banyak pintu rezeki. Semua ini harus dilakukan tanpa malas. Atas dasar itu Nabi mengingatkan :- لو أنكم توكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصاً وتروح بطاناً Artinya : Kalau kamu benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya akan diberikan rezeki kepadamu sebagaimana diberikan rezeki kepada burung-burung, yang keluar dengan perut lapar di pagi hari, pulang dalam keadaan kenyang. Para ulama menyebut dengan jelas dan terang, maksud tawakkal dalam hadis di atas merujuk kepada usaha, ilmu dan bersungguh-sungguh dan sesudah itu bersangka baiklah kepada Allah. Barang siapa yang bersangka baik kepada Allah, Allah akan menunaikan sangkaan baiknya. Begitu juga sebaliknya. Akhir sekali, Nabi menasehatkan seorang sahabat yang agak kerap memohon bantuan harta dari Nabi s.a.w:- يا حكيم إنّ هذا المال خضرة حلوة فمن أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، كالذي يأكل ولا يشبع Artinya : Wahai Hakim, sesungguhnya harta merupakan seperti buah- buahan yang subur, manis lagi disukai, barangsiapa yang mengambilnya dengan jiwa yang "zuhud" (dan tidak meminta-minta) niscaya akan diberkahi baginya pada harta itu, barangsiapa mengambilnya dengan tinggi diri (serta tamak) tidak ada berkat di dalamnya, sebagaimana orang yang makan tetapi tidak kenyang" (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim) .


Pengertian Rezeki Halal Dan Haram

Marilah kita mendengar dan memahami serta beramal dengan petunjuk Allah SWT di dalam al-Quran berkaitan rezeki yang dikaruniakan kepada kita di dunia ini berdasarkan Firman Allah : "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari benda-benda yang baik (yang halal) yang telah Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar kamu beribadah hanya kepadaNya." (Al-Baqarah: 172) Yang dimaksud dengan memakan rezeki yang halal ialah mengambil manfaat dari rezeki yang diberikan oleh Allah SWT, bukan saja dalam soal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal termasuk juga kendaraan yang digunakan.Semua perkara yang digunakan itu haruslah diambil dari rezeki halal dan diizinkan oleh Allah SWT. Dengan arti kata lain, bukan saja rezeki itu dari bahan-bahan halal tetapi harus memastikan dari sumber-sumber halal dan dimanfaatkan dengan cara yang diizinkan oleh Allah SWT. Perkara ini dijelaskan oleh sabda Rasulullah s.a.w. : Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Sabda Rasulullah s.a.w: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah SWT itu baik, Dia tidak menerima melainkan yang baik. Allah memerintah orang-orang yang beriman saja dengan apa yang diperintahkan kepada rasul-Nya. Firman Allah SWT: "Wahai rasul-rasul, makanlah kamu dari yang baik lagi halal dan beramallah kamu dengan amalan yang soleh, sesungguhnya Aku amat mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mukminun: 51). Dan firman Allah SWT: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kamu yang halal yang Aku rezekikan kepada kamu." (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah s.a.w menceritakan seorang lelaki yang terlalu banyak musafirnya sehingga kusut masai rambutnya, berdebu pakaiannya. Lelaki itu berdoa kepada Allah: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan sejak kecil lagi dia diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimana Allah akan memperkenankan doanya?" (Riwayat Muslim) Ini menunjukkan perkara yang halal sangat mempengaruhi kehidupan di dunia ini dan hubungan dengan Allah SWT dari kehidupan dunia sampai akhirat. Bukan saja dimasukkan ke dalam syurga bagi mereka yang mengambil dan menggunakan yang halal dan dimasukkan ke dalam neraka bagi mereka yang menggunakan yang haram, bahkan mereka akan menjalani kehidupan dunia dalam keadaan yang tidak berkah serta mendapat kutukan Allah. Yang dimaksudkan mengambil yang haram itu ialah mengambil harta dengan cara yang tidak diizinkan oleh Allah sama ada mencuri, merampok, mencope, menipu, korupsi dan lain sebagainya, termasuk mengambil harta sesama manusia dengan cara yang tidak diizinkan oleh syara'. Itulah perkara-perkara yang haram yang dinyatakan oleh Allah SWT, bukan saja mengambil makanan dengan cara mencuri adalah haram di sisi Allah seperti juga meminum arak. Maka begitu juga mengambil barang milik orang lain dengan cara yang tidak benar, termasuk juga menggunakan kendaraan dan rumah dengam sumber yang haram, termasuk juga tanah-tanah yang diambil, uang yang dicari dengan cara yang tidak halal, membagi harta pusaka dengan cara yang tidak adil, semua yang diambil adalah haram di sisi Allah dan diberi peringatan keras oleh Rasulullah s.a.w. peringatan oleh Allah SWT kepada mereka yang memakan makanan yang haram, makanan yang diambil dengan harta yang haram, minuman yang haram atau minuman yang dibeli dengan harta yang haram, semuanya itu akan menjadi umpan api neraka dalam perut mereka. Termasuklah mereka yang memakai pakaian dengan cara dan gaya yang haram juga akan menjadi umpan api neraka pada hari kiamat. Begitu juga kepada mereka yang mengambil tanah orang lain dengan cara yang haram. Ini bukannya satu perkara yang boleh dipermain-mainkan, termasuklah mereka yang cerdik pandai dan bijak, mencari rezeki secara korupsi. Sabda Rasulullah s.a.w. "Allah melaknat orang yang memberi rasuah dan orang yang menerimanya." Dalam hadis yang lain, sabda Rasulullah s.a.w : "Orang yang memberi dan menerima rasuah semuanya di dalam neraka." Begitulah peringatan yang keras dari Nabi s.a.w. korupsi bukan saja untuk mendapat sesuatu tetapi termasuklah untuk mendapat pengaruh seperti melantik pemimpin-pemimpin melalui sistem rasuah sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Bani izra'il yang memilih pemimpin-pemimpin yang memberi korupsi kepada mereka. Maka pemimpin itu akan bersama dengan para pengikutnya di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka menerima apa saja dengan tidak mengikuti petunjuk daripada Allah SWT tetapi mengikut selera hawa nafsunya. Marilah kita selamatkan diri kita dengan agama. Firman Allah : "Dan janganlah kamu memakan (atau mengambil) harta (orang-orang lain) di antara kamu dengan jalan yang salah dan jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim-hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) sebahagian dari harta manusia dengan (berbuat) dosa padahal kamu mengetahui (salahnya). (Al-Baqarah: 188). Marilah kita berpegang dengan petunjuk yang ditunjukkan oleh Allah serta petunjuk yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad s.a.w. terutamanya pada zaman manusia yang mabuk dengan keduniaan dan kemewahan, Allah SWT telah berfirman :"Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi untuk menjalankan urusan-urusan masing-masing dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah karunia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak dalam segala keadaan, supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat)." Surah Al Jumu'ah Ayat 10. Seberapa banyak pun rezeki yang kita cari dan perolehi di dunia ini tidaklah menjadi larangan di dalam Islam asalkan jangan sampai menlalaikan perintah Allah SWT dan melanggar larangan-larangan Allah SWT.Rezeki kita itu sebenarnya adalah hak Allah SWT dan Allah Ta'ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sajalah yang mengkurniakan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya mengikut aturan yang telah ditetapkan. Oleh itu, seseorang yang mencari rezeki itu hendaklah berniat untuk memelihara agamanya untuk mencukupi dirinya supaya tidak meminta-minta kepada orang lain terutama untuk mendapatkan rezeki bagi ahli rumah tangganya, kemudian jika ada lebih disedekahkan kepada orang-orang yang berhajat. Semua bidang pekerjaan yang kita ceburi di dunia ini sama ada kita bekerja dengan pemerintahan maupun swasta atau sebagai pedagang, petani, nelayan, buruh dan sebagainya hendaknya memastikan bahawa rezeki yang kita dapatkan itu benar-benar halal dan tidak menyimpang dari landasan hukum Islam yang sebenarnya, seperti tidak ada penipuan, penindasan, rampasan, hianat, riba, korupsi dan sebagainya. Rasulullah s.a.w telah bersabda dalam sebuah hadis Baginda yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari yang menjelaskan: "Dari Abi Hurairah ra telah berkata ia: Nabi saw bersabda Akan ada suatu zaman pada umat manusia yang seseorang itu tidak lagi mempedulikan apa yang dicarinya (rezeki yang diterima olehnya) apakah dari yang halal atau dari yang haram." Setiap rezeki yang kita perolehi dari jalan yang salah ataupun bercampur antara yang halal dengan yang haram akan memberi kesan yang tidak baik, baik pada diri kita sendiri, keluarga, masyarakat maupun kita dengan Allah SWT. Ini jelas digambarkan dalam hadis Nabi s.a.w yang menjelaskan: "Dari Ibnu Umar ra katanya: Barang siapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, satu dirham di antaranya wang yang haram, maka Allah Taala tidak akan menerima salatnya selama pakaian itu masih dipakainya. Kemudian Ibnu Umar memasukkan kedua jarinya ke dalam dua telinganya, lalu berkata: Biarkanlah telinga ini tuli kalau tidak mahu mendengarkan kata-kata dari Nabi saw ini." (Hadis riwayat dari Imam Al-Bukhari). Kita wajiblah berhati-hati dalam mencari dan mendapatkan rezeki, apalah gunanya kita mempunyai kekayaan di dunia ini tetapi segala ibadah dan amal bakti kita kepada Allah SWT tidak di ridhoi-Nya, disebabkan kita terlalu rakus di dalam mencari harta sehingga mencampur-adukkan antara yang hak dan yang batil. Nauzubillah Minzalik. Semasa Sayidina Abu Bakar ra menjadi khalifah pernah terjadi suatu peristiwa terhadap dirinya yang bisa dijadikan i'tibar dan panduan kepada kita selaku hamba Allah yang sangat daif ini, yaitu ketika Sayidina Abu Bakar ra makan suatu makanan, lalu hambanya memberitahu bahawa makanan yang dimakannya itu adalah hasil yang diterimanya dari pekerjaannya sebagai tukang ramal, sebelum dia masuk Islam. Lantas Sayidina Abu Bakar ra mengeluarkan makanan tersebut sebanyak yang bisa hingga memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya, lalu ditegur, mengapa Sayidina Abu Bakar ra sanggup berusaha mengeluarkan makanan tersebut, Sayidina Abu Bakar berkata bahawa dia pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Badan yang tumbuh subur dengan makanan yang haram pasti akan merasai api Neraka. Oleh kerana itu aku memaksa makanan itu keluar, takut kalau ia menyuburkan badanku. Begitulah kisahnya tentang Sayidina Abu Bakar yang sangat teliti tentang halal haramnya rezeki yang dimakannya. Oleh karena itu wahai kaum Muslimin sekalian selagi pembeli dan juga penjual dan sebagainya, kita haruslah berhati-hati dalam mencari rezeki ini, jangan sampai kita tercebur kepada perkara yang haram seperti memakan makanan yang haram ataupun menjual barang-barang yang haram dan diragukan kehalalannya. Hindarkanlah diri kita dari memakan makanan yang haram itu karena orang yang memakan makanan yang haram itu api Neraka lebih utama baginya sebagaimana sabda Nabi s.a.w yang bermaksud: "Tidak akan memasuki Syurga, daging yang tumbuh daripada yang haram, api Neraka lebih utama baginya." (Riwayat Al-Imam Ahmad). Firman Allah SWT : "Oleh itu, makanlah wahai orang-orang yang beriman dari apa yang telah dikarniakan Allah kepada kamu dari benda-benda yang halal lagi baik dan bersyukurlah, jika benar kamu hanya menyembah-Nya semata-mata." Surah An-Nahl Ayat 114 .

Minggu, 31 Juli 2016

Bahaya Dari Kekayaan Yang Melimpah Dan Berlebihan

Sahabat berkata "kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w. di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus'ab bin Umar r.a. dan tiada di atas badannya melainkan hanya sehelai selendang melekat pada kulit. Tatkala Rasulullah s.a.w. melihat kepadanya Baginda menangis dan meneteskan air mata karena teringat kemewahan Mus'ab ketika berada di Mekah dahulu (karena sangat dimanjakan oleh ibunya) dan karana memandang nasib Mus'ab sekarang (ketika berada di madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan semua harta benda dan kekayaannya di Mekah). Kemudian Rasulullah bersabda, "Bagaimanakah keadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian dan pergi di waktu malam dengan pakaian yang lain. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakkannya satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu seperti kamu memasang kelambu Ka'bah?".Maka jawab sahabat, "Wahai Rasulullah s.a.w. tentunya diwaktu itu kami lebih baik daripada hari ini. Kami akan memberikan penumpuan kepada masalah ibadah saja dan tidak usah mencari rezeki". Kemudian Rasulullah bersabda, "Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu". - Riwayat Tarmizi Hadis diatas menerangkan bahwa manusia yang mendapat kekayaan dan kelapangan harta dalam kehidupan, siang dan malam pakaianya silih berganti, hidangan makanan tidak pernah putus, rumah tersergam indah dengan hiasan yang bermacam-macam, manusia sering menyangka apabila semuanya sudah ada, maka akan lebih mudah mengerjakan ibadah. Tetapi Rasulullah s.a.w. mengatakan, "Keadaan serba kekurangan itu adalah lebih baik untuk kita". artinya lebih memungkinkan kita untuk beribadah. Kemewahan hidup banyak menghalang seseorang dari beribadah kepada Allah s.w.t.dimana seperti yang terjadi saat ini. Kekayaan dan kemewahan yang sudah ada, selalu menyibukkan kita dan menghalang dari melaksanakan beribadah. Kita sibuk mengumpulkan harta dan sibuk menjaganya dan yang paling disayangkan adalah sibuk untuk menambah harta lebih banyak lagi sehingga tidak ada waktu sedikitpun yang disempatkan untuk melaksanakan ibadah. Tidak ada perbedaan seperti apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w, "Seandainya seorang anak adam itu telah mempunyai satu jurang emas, dia akan berhasrat untuk mencari jurang yang kedua, sehinggalah dia masuk kedalam tanah (menemui kematian)". Begitulah gambaran yang sebenarnya terhadap ketamakan manusia dalam menimbun harta bendauntuk kekayaan. Ia senantiasa mencari dan menambah, sehinggalah ia menemui kematian. Maka disaat itu, barulah mereka sadar dengan seribu satu penyesalan. akanTetapi penyesalan di saat itu sudah tidak berguna lagi. Biarlah kita mencari harta benda dunia dengan batas-batas keperluan saja, tapi jika lebih bisa digunakan untuk menolong orang lain yang kurang bernasib baik, sukailah sifat beramal dan suka bersedekah, sebagai simpanan untuk hari akhirat kelak. Orang yang bijak adalah orang yang mempunyai perhitungan untuk masa depan akhiratnya dan ia menjadikan dunia ini tempat bertanam dan akhirat tempat memetik hasilnya.

Sabtu, 30 Juli 2016

Pengertian Rezeki dan kekayaan dalam pandangan islam

Rezeki di dalam Islam bukan hanya terbatas kepada uang dan harta. Jangkauan rezeki yang disebut oleh Allah ta'ala dan Rasulullah sangat luas sekali melebihi rezeki yang kita sangka. Hakikatnya orang yang ‘memberi' dan menyumbang akan mendapatkan ganjaran dari Allah dalam berbagai macam-macam bentuk, bahkan juga melampaui material dan spiritual. Rezeki adalah sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada hambanya. Rezeki yang kita dapat tu bukan hak mutlak kita seorang saja, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Allah SWT tidak membebani manusia harus menjadi seseorang yang kaya harta. Allah SWT hanya membebani manusia agar berusaha sesuai dengan kemampuan. Dan hasilnya itu hanya di tangan Allah. Allah SWT telah melapangkan dan menyempitkan rezeki seorang sesuai dengan kehendak-Nya. Dan itu merupakan taqdir kauni, sebagaimana firman-Nya : أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ”Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya ? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman” [QS. Az-Zumar : 52]. Kedudukan harta dan kekayaan tidak bisa di sejajarkan atau bahkan lebih tinggi dengan kedudukan iman dan ibadah kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang disiratkan Allah SWT dalam ayat-Nya : الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا ”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan sholeh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46]. Kekayaan adalah amanah dari Allah SWT yang harus diuruskan dengan sebaik-baiknya. Konsep amanah ini menunjukkan bahawa segala kekayaan yang dianugerahkan oleh Allah adalah merupakan pinjaman semata di dunia ini. Walaubagaimanapun, yang Maha Pemurah dan Maha Luas sifatnya memberikan kebebasan kepada hambanya menggunakan nikmat ini untuk manfaat dunia dengan berpandukan Syariah. Melaksanakan amanah ini dengan baik bukan saja akan mendapat kesenangan duniawi, tetapi Allah akan memberikan ganjaran pahala sebagai bekalan di Akhirat nanti. Selain itu, kekayaan adalah merupakan salah satu jalan menuju kesuksesan. Ayat 10-12, Surah As-Saff yang bermaksud: "Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung." Dengan memahami kedua-dua konsep kekayaan dalam Islam ini, maka aspek perancangan keuangan haruslah diberi perhatian. Melaksanakan perancangan keuangan yang baik dan berkesan merupakan suatu Ibadah dengan tujuan menjaga Amanah daripada Allah dan salah satu cara mencapai kesuksesan di dunia dan di akhirat sebagaimana janji Allah yang disebutkan diatas. Seorang Muslim yang beriman itu adalah baik, tetapi seorang Muslim yang beriman dan menggunakan kekayaan anugerah Allah untuk kemaslahatan(kebaikan) ummah adalah lebih dicintainya.